Ia mengingatkan bahwa keberhasilan proyek ini sangat bergantung pada sinergi pemerintah pusat, daerah, serta kepastian regulasi yang mendukung.
“Jika regulasi jelas dan konsisten, investor akan datang. Yang terpenting, proyek ini harus memberi manfaat langsung bagi masyarakat, baik dari sisi kebersihan lingkungan maupun pasokan energi,” katanya.
Baca Juga:
Siap Dukung PLTSa di Seluruh Indonesia, ALPERKLINAS Apresiasi Kesiapan PLN Atas Penugasan Danantara Sebagai Offtaker
Tohom yang juga Pengamat Energi dan Lingkungan ini menyoroti pentingnya pemilihan teknologi yang tepat dalam proyek PLTSa.
Ia menilai ketertarikan investor dari Jepang, Eropa, dan China merupakan peluang besar, namun harus disertai seleksi ketat agar teknologi yang digunakan benar-benar efisien dan ramah lingkungan.
“PLTSa bukan sekadar membakar sampah. Kita harus memastikan emisi terkendali, residu aman, dan listrik yang dihasilkan bisa terserap optimal oleh PLN. Kalau ini dijalankan dengan benar, Indonesia bisa menjadi contoh negara berkembang yang berhasil mengubah masalah sampah menjadi sumber energi,” jelasnya.
Baca Juga:
Selain Sumber Energi Listrik, ALPERKLINAS Dorong Masyarakat Dukung Pembangunan PLTSa Atasi Masalah Lingkungan dan Emisi
Di sisi lain, Tohom mengingatkan bahwa PLTSa bukan satu-satunya solusi. Ia menekankan perlunya edukasi publik, penguatan sistem pemilahan sampah, serta ekonomi sirkular agar volume sampah yang masuk ke PLTSa dapat dikelola secara optimal.
“PLTSa adalah pilar penting, tapi tetap harus didukung perubahan perilaku masyarakat. Inilah momentum untuk membangun budaya baru: sampah bukan beban, melainkan potensi,” pungkasnya.
[Redaktur: Rinrin Khaltarina]