Ateng menambahkan bahwa keterampilan yang diperoleh warga binaan selama menjalani masa pembinaan dapat menjadi modal sosial maupun ekonomi yang berharga ketika mereka kembali ke tengah masyarakat.
Dengan kemampuan yang dimiliki, warga binaan diharapkan memiliki peluang yang lebih besar untuk memperoleh pekerjaan atau bahkan membuka usaha secara mandiri.
Baca Juga:
Pesantren Didorong Adopsi Kurikulum Internasional untuk Cetak Santri Berdaya Saing Global
“Paket ibadah yang kami salurkan hari ini memang sederhana, tetapi kami berharap dapat menjadi bagian dari upaya memperkuat pembinaan kepribadian, meningkatkan kualitas ibadah, serta memberikan motivasi bagi warga binaan untuk terus memperbaiki diri selama menjalani masa pidana,” lanjutnya.
Lebih lanjut, Ateng menegaskan bahwa pembinaan kemandirian dan pembinaan spiritual harus berjalan secara beriringan agar proses reintegrasi sosial dapat berlangsung secara efektif dan berkelanjutan.
Menurutnya, keberhasilan pembinaan tidak hanya bergantung pada satu aspek, melainkan memerlukan keseimbangan antara penguatan karakter, mental, dan keterampilan praktis.
Baca Juga:
Kesetaraan Gender Bukan Sekadar Kuota, Irine Dorong Perempuan Lebih Berpengaruh di Parlemen
Ia juga memberikan apresiasi kepada jajaran Lapas Kelas IIB Majalengka yang dinilai telah berupaya menjalankan berbagai program pembinaan secara konsisten meskipun menghadapi sejumlah keterbatasan.
“Keberhasilan sistem pemasyarakatan membutuhkan kolaborasi yang kuat antara pemerintah, masyarakat, dunia usaha, organisasi sosial, dan berbagai pemangku kepentingan lainnya agar proses pembinaan dapat berlangsung secara optimal,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Lapas Kelas IIB Majalengka, Rian Firmansyah, menyampaikan apresiasi atas perhatian dan dukungan yang diberikan Ateng Sutisna terhadap pelaksanaan program pembinaan di lapas yang dipimpinnya.