"Dalam 48-72 jam ke depan, 92P diprakirakan akan melemah. Bibit siklon tersebut menyebabkan terbentuknya low level jet di Teluk Carpentaria, serta membentuk daerah konvergensi dan konfluensi dari Laut Timor hingga Laut Arafuru bagian selatan dan Pesisir Utara Australia bagian utara," jelas BMKG.
Selain pengaruh bibit siklon tropis, kondisi atmosfer dari skala global hingga lokal juga diprediksi turut memengaruhi pola cuaca di Indonesia dalam beberapa hari mendatang.
Baca Juga:
Hujan Lebat dan Angin Kencang di Jabodetabek, BMKG Keluarkan Status Siaga untuk 6 Wilayah
Monsun Asia diperkirakan menguat disertai peningkatan fenomena seruakan udara dingin yang turut memicu pertumbuhan awan hujan.
Fenomena Madden-Julian Oscillation (MJO) juga diperkirakan meningkatkan potensi pembentukan awan hujan khususnya di wilayah Indonesia bagian timur.
BMKG juga mencatat adanya aktivitas gelombang Kelvin yang terpantau di Aceh, Sumatera Utara, Kalimantan bagian selatan, Sulawesi Barat bagian selatan, Sulawesi Utara, Maluku Utara, Papua Barat Daya, Papua Barat, serta Papua bagian utara.
Baca Juga:
Angin Kencang Rusak Puluhan Rumah di Tapin, Banjir di Malang Mulai Surut
Sementara itu gelombang equatorial rossby diprediksi aktif di wilayah Nusa Tenggara Barat bagian selatan, Nusa Tenggara Timur bagian selatan, Maluku, serta hampir seluruh wilayah Pulau Papua.
"Adanya kombinasi fenomena ini berpotensi memicu peningkatan curah hujan di daerah-daerah tersebut," sebut BMKG.
BMKG memprediksi kondisi cuaca di Indonesia pada periode 6 hingga 8 Maret 2026 secara umum didominasi hujan ringan hingga sedang.