Desain kopel ini dinilai efektif dalam mengoptimalkan pemanfaatan lahan, mempermudah penyediaan fasilitas bersama seperti sanitasi, sekaligus mendukung penataan lingkungan huntara yang lebih tertata dan layak huni.
Untuk mengejar target penyelesaian, BNPB melakukan percepatan pembangunan dengan menambah jumlah personel di lapangan, yang melibatkan masyarakat setempat, unsur TNI/Polri, serta mitra dari sektor swasta.
Baca Juga:
Pembangunan Huntara dan Huntap Berjalan Paralel, Pemulihan Sumut Masuki Tahap Lanjutan
Sejumlah pekerja menyelesaikan pembangunan hunian sementara (huntara) bagi warga terdampak banjir di Desa Pematang Durian, Kecamatan Sekerak, Kabupaten Aceh Tamiang, Provinsi Aceh, pada Rabu (14/1/2026).
Kondisi cuaca yang relatif cerah turut mendukung kelancaran proses pembangunan huntara.
Dalam pelaksanaannya, BNPB membangun sebanyak 1.505 unit huntara yang terdiri dari 323 unit huntara insitu, yakni hunian sementara yang dibangun dekat dengan lokasi asal tempat tinggal warga.
Baca Juga:
BNPB Laporkan Perkembangan Penanganan Bencana Hidrometeorologi hingga Pertengahan Januari 2026
Huntara insitu tersebut tersebar di Kecamatan Karang Baru sebanyak 203 unit, Mayak Payed 22 unit, Bendahara 48 unit, Banda Mulia 2 unit, Rantau 28 unit, dan Kota Kualasimpang 20 unit.
Sementara itu, sebanyak 1.182 unit huntara terpusat dibangun di sejumlah kecamatan, antara lain Kecamatan Sekerak 121 unit, Bandar Pusaka 245 unit, Tamiang Hulu 481 unit, Rantau 116 unit, Seruway 34 unit, Kota Kualasimpang 35 unit, serta Kejuruan Muda 150 unit.
Sejumlah pekerja menyelesaikan pembangunan hunian sementara (huntara) bagi warga terdampak banjir di Desa Pematang Durian, Kecamatan Sekerak, Kabupaten Aceh Tamiang, Provinsi Aceh, pada Rabu (14/1/2026).