"Generasi muda memiliki keinginan yang besar untuk mempromosikan budaya dan identitas bangsa. Kami percaya negara luar perlu melihat keunikan dan kehebatan negara ini. Tapi, di sisi lain, kita semua masih sering berkelahi dan menjatuhkan satu sama lain hanya karena perbedaan ras, suku, dan terutama agama," tegasnya.
Artis lulusan Psikolog dan Sastra Jerman ini mengaku ironis lantaran perbedaan yang ada justru kerap kali menimbulkan koflik.
Baca Juga:
Kemenag Sulut: Penyuluh Agama Harus Jadi Pelopor Moderasi Beragama di Daerah
"Bukankah Pasal 1 dari Undang-Undang PNPS bahwa ada enam agama di negara ini? Bukankah motto negara ini Bhineka Tunggal Ika, yaitu berbeda tetapi satu?" tutur Cinta Laura.
"Mengapa, walau dengan pondasi negara yang begitu memeluk perbedaan dan toleransi, tetap saja masih ada konflik," imbuhnya.
"Mengapa, dengan pondasi negara yang begitu memeluk perbedaan dan toleransi, tetap saja masih ada konflik? Apa yang membuat agama membuat kita mampu melupakan inti dari identitas bangsa ini?" tanyanya.
Baca Juga:
Sekda Sultra Apresiasi Dialog Kerukunan Umat Beragama untuk Komunikasi Lintas Generasi Muda
"Bagaimana kita, sebagai makhluk yang memiliki kemampuan terbatas, merasa memiliki kemampuan untuk mengerti sesuatu yang jauh di luar kapasitas kita? Karena pemahaman yang terbatas dan pemikiran yang tidak kritis, orang terjebak dalam cara berpikir di mana manusia ‘memanusiakan’ Tuhan. Merasa berhak mendikte Tuhan, tahu kemauan Tuhan, dan merasa punya hak bertindak atas nama Tuhan. Inilah yang akhirnya seringkali berubah jadi sifat radikal," papar Cinta Laura.
Cinta Laura juga menyampaikan pentingnya mempelajari ilmu yang diseimbangkan dengan nilai yang ada dalam budaya, sains, atau lainnya.
"Fungsi agama satu, yaitu membimbing kompas moral manusia. Mengingatkan manusia untuk memperlakukan satu sama lain dengan hormat," ucap pelantun Guardian Angel itu.