WAHANANEWS.CO, Jakarta — Tokoh Nahdlatul Ulama (NU) yang menjabat sebagai Ketua Forum Penyelamatan Nahdlatul Ulama (FPNU), Abdul Hamid Rahayaan, menyampaikan seruan secara terbuka kepada jajaran Rois Syuriyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) dan Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) di seluruh Indonesia guna menyikapi dinamika internal organisasi di Jakarta, Kamis (13/8/2026).
Abdul Hamid mengimbau kepada seluruh struktur pengurus di daerah untuk membendung potensi perpecahan yang lebih luas di tubuh NU. Salah satu langkah strategis yang ditekankan adalah menjaga independensi organisasi dari campur tangan pihak luar.
Baca Juga:
Kasus Kuota Haji, Kiai Soroti Pengurus NU yang Terseret Korupsi
"Agar tidak terjadi perpecahan dalam tubuh NU yang lebih luas, maka hindari intervensi dari pihak luar yang dapat merusak NU," ujar Abdul Hamid dalam lepasan persnya, Kamis (13/8/2026).
Secara khusus, Forum Penyelamatan NU meminta PWNU dan PCNU se-Indonesia untuk tidak mencantumkan nama KH Miftachul Akhyar sebagai anggota Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA) NU.
Abdul Hamid menilai keberadaan Miftachul Akhyar menjadi suatu faktor pemicu dinamika dan ketegangan di internal NU saat ini.
Baca Juga:
Isu Pelaporan Pandji Pragiwaksono, Menkum Akan Cek ke Kepolisian
Menurut Abdul Hamid, terdapat dua keputusan besar yang dinilai melanggar Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) NU. Keputusan yang dimaksud adalah tindakan pemberhentian KH Yahya Cholil Staquf dari jabatan Ketua Umum PBNU serta mengangkat KH Zulfa Mustofa sebagai Pelaksana Tugas (Plt) Ketua Umum PBNU.
Lebih lanjut, ia menyoroti gaya kepemimpinan yang dinilai bertentangan dengan nilai-nilai tradisi dan etika para ulama NU.
"Sikap yang cenderung diktator dan ambisius tersebut melanggar etika sebagaimana kebiasaan ulama Nahdlatul Ulama yang tidak terbiasa mengejar-ngejar jabatan," tegasnya.