"Tolong dikasih tahu bahwa makna dan gerakan dari Srikandi Indonesia adalah menampilkan hal-hal yang positif dari wanita Indonesia. Kita harus tonjolkan kelebihan-kelebihan dari wanita dan sebagainya, kita tonjolkan hal-hal yang positif," ujar Prof. Delima yang juga merupakan Pejabat Fungsional Peneliti Ahli Utama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
Lebih lanjut, GSI berkomitmen menjadi ruang bersama untuk melawan dominasi konten negatif yang marak beredar di ruang publik.
Baca Juga:
Kolaborasi BPJS Kesehatan dan BRIN Dorong Kebijakan JKN Berbasis Data
Organisasi ini menilai derasnya informasi bernuansa kekerasan dan kriminalitas berpotensi merusak tatanan sosial, sehingga perlu diimbangi dengan narasi edukatif dan inspiratif yang berakar pada nilai kebaikan.
Ketua Umum Gerakan Srikandi Indonesia, Dewie Yasin Limpo, turut menegaskan bahwa setiap anggota memiliki tanggung jawab moral untuk membawa perubahan positif di lingkungannya masing-masing.
Ia berharap perempuan Indonesia mampu tampil sebagai agen pembentuk generasi yang berintegritas, berkarakter, serta memiliki kesadaran kebangsaan yang kuat.
Baca Juga:
Raksasa di Bawah Bandung, Sesar Lembang Menyimpan Energi Gempa M 7
"Karena visinya adalah kita ingin terwujudnya perempuan Indonesia yang berdaya, mandiri, dan bermartabat untuk bangsa Indonesia. Gerakan Srikandi Indonesia ini, organisasi ini, adalah wadah untuk kita berkumpul, mengolah semua potensi yang ada dalam diri perempuan Indonesia," kata Dewie.
Pendekatan berbasis keluarga yang diusung GSI dipandang sebagai instrumen strategis dalam menjaga moralitas bangsa dari pengaruh negatif globalisasi.
Pendidikan karakter yang dimulai dari rumah diyakini menjadi investasi jangka panjang yang paling bernilai bagi keberlanjutan bangsa di masa depan.