Akumulasi curah hujan di wilayah hulu memicu respons hidrologi yang cepat, sehingga menyebabkan banjir bandang dengan muatan sedimen tinggi serta meningkatkan potensi longsor pada lereng dan tebing sungai.
Selain itu, perubahan alur dan pendangkalan sungai di sejumlah DAS turut memperbesar risiko banjir di wilayah hilir.
Baca Juga:
Banjir Rendam DKI Jakarta, Lebih dari 1.600 Warga Mengungsi di Puluhan Titik
Sebagai langkah mitigasi, BNPB mendorong pengelolaan daerah aliran sungai dan kawasan lereng Gunung Slamet secara terpadu, melalui penataan dan normalisasi sungai, penguatan struktur pengaman tebing dan jembatan, serta pengendalian pemanfaatan ruang di zona rawan banjir bandang dan longsor.
Peningkatan sistem peringatan dini berbasis curah hujan dan debit sungai, pembatasan aktivitas di kawasan wisata alam saat hujan lebat, serta penguatan kapasitas kesiapsiagaan masyarakat di wilayah hulu dan hilir DAS dinilai menjadi langkah penting dalam upaya pengurangan risiko bencana.
Upaya Penanganan Darurat
Baca Juga:
Akhir Januari 2026, Banjir dan Longsor Masih Dominasi Laporan Bencana
Dalam penanganan darurat, BNPB bersama BPBD kabupaten terdampak serta BPBD Provinsi Jawa Tengah terus melakukan koordinasi lintas sektor.
Langkah-langkah yang dilakukan meliputi evakuasi warga ke lokasi aman, pengamanan area berbahaya, pembersihan material banjir dan longsor, pembukaan akses jalan yang terputus, pendataan korban dan kerusakan, serta pengelolaan lokasi pengungsian.
Sebagai bagian dari mitigasi cuaca ekstrem dan percepatan penanganan bencana hidrometeorologi, BNPB juga melaksanakan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di wilayah Jawa Tengah yang dioperasikan melalui Bandara Internasional Ahmad Yani, Semarang.