Astawa menyampaikan, pengawasan harga dilakukan secara ketat melalui berbagai instrumen, termasuk operasi pasar dan intervensi langsung oleh Perum Bulog.
“Kalau ada harga beras yang melewati harga eceran tertinggi (HET), kita langsung intervensi. Tidak boleh ada yang bermain harga,” ujarnya.
Baca Juga:
Pemerintah Bentuk Klinik UMKM Bangkit untuk Percepat Pemulihan Ekonomi Pascabencana Sumatra
Astawa juga memaparkan bahwa stok beras nasional pada awal 2026 mencapai 12,529 juta ton. Jumlah tersebut mencakup Cadangan Beras Pemerintah (CBP) yang dikelola Bulog sebesar 3,248 juta ton.
Ketersediaan stok ini menjadi faktor kunci dalam menjaga stabilitas harga dan pasokan beras di pasar.
Ia menambahkan, produksi beras dalam negeri diperkirakan akan terus meningkat seiring mendekatnya musim panen.
Baca Juga:
Surplus Jagung 2025 Capai 0,47 Juta Ton, Pemerintah Pastikan Tanpa Impor pada 2026
Panen raya yang dijadwalkan berlangsung pada Maret hingga April diyakini akan semakin memperkuat ketahanan pangan nasional dan menekan potensi lonjakan harga.
“Nanti Maret mulai panen, April panen raya. Ini juga menandakan pada tahun 2026 pun kita akan semakin kuat,” katanya.
Di sisi lain, Pengurus Pusat Perhimpunan Ekonomi Pertanian Indonesia (Perhepi), Khudori, mengingatkan pemerintah agar tetap berhati-hati dalam menyikapi data stok beras nasional.