Enam daerah tersebut meliputi DKI Jakarta, Kabupaten Banyuwangi, Kota Makassar, Kabupaten Sumedang, Kota Semarang, dan Kota Denpasar.
Indonesia juga mendorong pengelolaan sampah dari hulu hingga hilir melalui gerakan Indonesia ASRI yang dipadukan dengan percepatan pembangunan fasilitas waste-to-energy.
Baca Juga:
Ruang Bersama Lansia Jakarta, MARTABAT Prabowo-Gibran: Perlu Dikembangkan dalam Skala Aglomerasi
“Indonesia mendorong pengelolaan sampah melalui gerakan Indonesia ASRI yang dipadukan dengan percepatan pembangunan fasilitas waste-to-energy,” kata Safrizal dalam tayangan Headline News Metro TV, Kamis (23/7/2026).
Safrizal menyampaikan bahwa seluruh unsur kota cerdas perlu dituangkan dalam program, perencanaan, tim pelaksana, serta capaian yang dapat diukur secara nyata.
“Semua aspek ‘Smart’ ini harus terprogram dalam kegiatan, tercermin dalam perencanaan, memiliki tim yang solid, dan menunjukkan progres yang nyata,” ucapnya.
Baca Juga:
TKDN IKN Dinilai Perkuat Ekonomi Nasional, MARTABAT Prabowo-Gibran: Jaga Identitas dan Kemandirian Nasional
Tohom menilai pembangunan fasilitas waste-to-energy dapat menjadi bagian dari solusi apabila dilakukan berdasarkan kebutuhan daerah, volume sampah, kesiapan teknologi, kemampuan pembiayaan, dan perlindungan lingkungan.
“Pemerintah harus memastikan fasilitas pengolahan sampah menjadi energi tidak hanya dibangun untuk mengejar target proyek, tetapi benar-benar mampu mengurangi timbunan sampah dan menghasilkan energi secara efisien,” katanya.
Tohom yang juga Pengamat Energi dan Lingkungan ini mengatakan bahwa pengembangan waste-to-energy harus didahului oleh pembenahan sistem pemilahan sampah dari sumbernya.