Menurut dia, sampah yang tidak dipilah akan menurunkan kualitas bahan baku, meningkatkan biaya pengolahan, memperbesar risiko pencemaran, dan mengurangi efisiensi produksi energi.
“Pemilahan harus dimulai dari rumah tangga, pasar, kawasan komersial, perkantoran, dan industri agar fasilitas pengolahan menerima bahan baku yang sesuai dengan teknologinya,” ujarnya.
Baca Juga:
Ruang Bersama Lansia Jakarta, MARTABAT Prabowo-Gibran: Perlu Dikembangkan dalam Skala Aglomerasi
Tohom mendorong pemerintah daerah melibatkan masyarakat, pelaku usaha, bank sampah, pemulung, komunitas lingkungan, perguruan tinggi, dan lembaga perlindungan konsumen dalam membangun ekosistem pengelolaan sampah.
Ia menilai partisipasi masyarakat akan tumbuh apabila pemerintah menyediakan sarana pemilahan, jadwal pengangkutan yang jelas, insentif ekonomi, edukasi berkelanjutan, dan informasi mengenai tujuan pengolahan sampah.
“Warga akan ikut menjaga kebersihan apabila mereka melihat bahwa sampah yang telah dipilah benar-benar dikelola dengan baik dan tidak kembali dicampur saat diangkut,” katanya.
Baca Juga:
TKDN IKN Dinilai Perkuat Ekonomi Nasional, MARTABAT Prabowo-Gibran: Jaga Identitas dan Kemandirian Nasional
MARTABAT Prabowo-Gibran juga mendorong enam daerah anggota ASCN Indonesia menjadi proyek percontohan yang dapat direplikasi oleh kota dan kabupaten lain.
Menurut Tohom, setiap daerah dapat mengembangkan model berbeda sesuai karakter wilayah, seperti pengelolaan sampah perkotaan padat di Jakarta, penguatan kebersihan kawasan wisata di Banyuwangi dan Denpasar, serta integrasi layanan digital di Semarang, Makassar, dan Sumedang.
“Keberhasilan enam daerah tersebut harus menghasilkan model yang dapat dipelajari, diukur, diperbaiki, dan diterapkan oleh daerah lain tanpa harus selalu memulai dari awal,” ujarnya.