"Saya tidak menyangka akan terpilih dalam musyawarah Majelis Umana IUMS untuk memimpin di masa transisi. Hal ini saya rasakan tidak hanya jadi tanggung-jawab pribadi, tetapi juga tanggung-jawab sebagai anak bangsa Indonesia untuk berkontribusi di kancah global," kata Salim Segaf.
Ia memandang tujuan IUMS sejalan dengan konstitusi Republik Indonesia yang antara lain menyatakan turut serta dalam menjaga ketertiban dan perdamaian dunia berdasarkan prinsip keadilan.
Baca Juga:
Cholil Nafis: Awal Puasa Ramadan 2025 Bisa Berbeda, tapi Lebaran Kemungkinan Sama
"Kita masih menyaksikan terjadinya perang dan konflik di berbagai kawasan. Para ulama dan tokoh agama dapat memberi arahan tentang ajaran agama yang damai dan mendorong kolaborasi antar bangsa-bangsa di dunia, bukan konfrontasi," katanya.
Waketum MUI KH Anwar Abbas memberi "tahniah" dan menyatakan sependapat dengan pandangan Ketua IUMS, bahwa sudah saatnya para ulama dan tokoh agama turut berperan menyelesaikan berbagai persoalan dunia, di mana ada masalah kemiskinan, kebodohan dan perpecahan antarkelompok yang berbeda.
"Padahal agama, khususnya Islam mengajarkan untuk hidup mandiri dan sejahtera, serta meningkatkan ilmu pengetahuan. Jika kesejahteraan dan kecerdasan masyarakat meningkat, maka potensi konflik akan berkurang," kata Anwar Abbas yang juga menjabat Pengurus Pusat Muhammadiyah.
Baca Juga:
Warga Non-Muslim di Sulut Bantu Gerakan Bersih Masjid Jelang Ramadhan 1446 H
Ia mengatakan MUI adalah suatu contoh organisasi tempat berkumpulnya para ulama dan intelektual dari latar belakang organisasi yang berbeda.
Demikian pula IUMS, anggotanya berasal dari 80 negara dengan latar belakang beragam, baik individu maupun organisasi.
Namun, semua perbedaan pandangan itu akan dicari titik temu untuk menyelesaikan persoalan yang dihadapi umat.