WAHANANEWS.CO, Jakarta - Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir dinilai tidak dapat diatasi hanya melalui kebijakan jangka pendek di sektor moneter.
Diperlukan langkah yang lebih komprehensif dan berorientasi jangka panjang untuk memperkuat fondasi ekonomi nasional agar lebih tahan terhadap berbagai gejolak ekonomi global.
Baca Juga:
Meski Dolar Rp17.600 Gubernur BI Bilang Rupiah Masih Stabil
Anggota Komisi XI DPR RI Kamrussamad menilai tekanan yang dialami rupiah saat ini merupakan konsekuensi dari struktur ekonomi Indonesia yang selama kurang lebih dua dekade terakhir masih sangat bergantung pada pembiayaan luar negeri berbasis valuta asing (valas).
Ketergantungan tersebut membuat perekonomian nasional rentan terhadap perubahan kondisi global, termasuk fluktuasi nilai tukar dan kebijakan ekonomi negara-negara besar.
Menurutnya, kondisi tersebut dapat terlihat dari neraca transaksi berjalan Indonesia yang dalam jangka panjang lebih sering mengalami defisit dibandingkan surplus.
Baca Juga:
DPR Minta BI Tekan Dolar ke Rp16.000-an, Ini Alasannya!
Situasi ini menunjukkan bahwa kebutuhan devisa untuk membiayai aktivitas ekonomi dan perdagangan masih relatif tinggi sehingga memberikan tekanan terhadap nilai tukar rupiah.
"Tekanan rupiah hari ini memang disebabkan oleh struktur ekonomi kita dalam kurun dua dekade terakhir yang lebih ditopang pada pinjaman luar negeri berbasis valas. Itu terlihat dari neraca transaksi berjalan kita yang lebih sering mengalami defisit,” ujar Kamrussamad dikutip dari situs resmi DPR RI, Sabtu (06/06/2026).
Politisi Fraksi Partai Gerindra tersebut menekankan pentingnya langkah strategis untuk mengurangi ketergantungan terhadap dolar Amerika Serikat maupun mata uang asing lainnya dalam aktivitas perdagangan dan pembiayaan nasional.