Agenda pertama adalah rekonsiliasi dan penguatan organisasi melalui peningkatan tata kelola, transparansi, serta penguatan semangat kebersamaan di antara seluruh anggota.
"Tidak boleh ada yang merasa ditinggalkan. Tidak boleh ada yang merasa tidak didengar," tegas Yenny.
Baca Juga:
Dukung Kepemimpinan Baru BGN, BPKN Minta Transparansi hingga Cegah Monopoli di Program MBG
Misi kedua berfokus pada pemberdayaan ekonomi perempuan melalui perluasan akses pelatihan, pengembangan kewirausahaan, pemanfaatan teknologi digital, akses pembiayaan, serta penguatan jaringan usaha bagi perempuan di berbagai daerah.
Program ketiga diarahkan pada perlindungan perempuan dan anak dengan memperkuat advokasi kebijakan, langkah pencegahan yang lebih luas, serta sistem pendampingan yang berpihak kepada korban kekerasan.
Selain itu, KOWANI juga akan memperkuat pengembangan kepemimpinan perempuan generasi baru melalui berbagai program strategis untuk mencetak pemimpin perempuan yang kompeten, tangguh, dan inklusif.
Baca Juga:
BP BUMN dan Danantara Pangkas Entitas PLN Group, Target Tinggal 23 Perusahaan pada 2028
Misi kelima adalah memperkuat kembali posisi Indonesia dalam gerakan perempuan dunia dengan merevitalisasi peran KOWANI sebagai organisasi yang memiliki status konsultatif di ECOSOC Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Melalui agenda tersebut, KOWANI menargetkan kembali menjadi mitra strategis pemerintah sekaligus wadah yang memberikan dampak nyata bagi kemajuan perempuan Indonesia.
KLB sendiri digelar sebagai respons terhadap krisis manajerial dan berbagai penyimpangan yang dinilai telah keluar dari koridor AD/ART organisasi.