Ia juga menilai JAFF memiliki posisi yang sangat strategis dalam mendorong kemajuan perfilman Indonesia.
Festival film internasional berbasis Asia tersebut dinilai berhasil menjadi ruang pertemuan antara sineas, investor, distributor, dan pelaku industri kreatif dari berbagai negara.
Baca Juga:
Talenta Animator Indonesia Mendunia, DPR Minta Dukungan Pembiayaan Diperkuat
Lebih dari itu, JAFF dianggap mampu membuka peluang distribusi yang lebih luas bagi karya-karya sineas Indonesia sekaligus memperkuat diplomasi budaya Indonesia di tingkat internasional melalui medium film.
Selain memberikan manfaat bagi industri perfilman, penyelenggaraan JAFF juga dinilai membawa dampak ekonomi yang signifikan bagi masyarakat.
Kehadiran festival tersebut turut mendukung pertumbuhan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) kreatif, meningkatkan aktivitas ekonomi lokal, serta membantu promosi sektor pariwisata daerah.
Baca Juga:
Novita Hardini Soroti Rumitnya Alih Fungsi Lahan yang Hambat Investasi Pariwisata Daerah
Meski demikian, Chusnunia mengingatkan bahwa masih terdapat sejumlah tantangan yang harus dihadapi agar industri film nasional dapat berkembang lebih optimal dan mampu bersaing di tingkat global.
"Namun, di tengah peran besar tersebut, masih terdapat sejumlah tantangan yang perlu dicermati, antara lain keterbatasan pembiayaan, akses distribusi yang belum merata, serta kebutuhan penguatan kapasitas kelembagaan agar mampu bersaing dengan festival film internasional lainnya," urainya.
Untuk menjawab berbagai tantangan tersebut, Komisi VII DPR RI mendorong pemanfaatan forum dialog industri secara maksimal sebagai sarana evaluasi terhadap kebijakan yang telah dijalankan pemerintah.