Tohom menjelaskan bahwa bank sampah bukan sekadar tempat penampungan sampah, tetapi aset ekonomi desa yang bisa mendorong gerakan daur ulang, menciptakan lapangan kerja, hingga membuka rantai pasok baru bagi UMKM.
Bank sampah juga dapat menjadi pintu masuk edukasi lingkungan yang terintegrasi dengan program energi bersih, pemberdayaan perempuan, dan pemuda desa.
Baca Juga:
Tak Disangka, Polusi Udara di 19 Kota Besar Dunia Turun Drastis dalam 15 Tahun
“Kita hidup di era ketika sampah punya nilai. Desa yang mampu mengelola sampahnya secara mandiri akan lebih mandiri secara ekonomi. Ini bukan wacana romantis, ini bisnis masa depan,” tegasnya.
Tohom yang juga Pengamat Energi dan Lingkungan ini menambahkan bahwa desa-desa Indonesia membutuhkan transformasi pengelolaan sumber daya.
Bank sampah dapat menjadi fondasi bagi program energi hijau desa, seperti produksi pelet biomassa, eco-enzyme, hingga pemanfaatan sampah organik untuk kompos.
Baca Juga:
Tragedi Bantar Gebang, Longsor Gunung Sampah 50 Meter Tewaskan 7 Orang
“Desa membutuhkan diversifikasi energi dan diversifikasi ekonomi sekaligus. Bank sampah adalah simpul strategisnya. Jika desa ingin berdaulat dan berkelanjutan, maka pengelolaan sampah harus naik kelas menjadi unit usaha resmi koperasi. Ini era ekonomi baru. Desa harus menjadi pemain utama, bukan lagi penonton,” tutup Tohom.
[Redaktur: Rinrin Khaltarina]
Ikuti update
berita pilihan dan
breaking news WahanaNews.co lewat Grup Telegram "WahanaNews.co News Update" dengan install aplikasi Telegram di ponsel, klik
https://t.me/WahanaNews, lalu join.