"Begitu Nabi mengikatkan lehernya, datang yang punya, 'Ya, Nabi, ada apa engkau kamu datang ke tempat kami? Satu kebanggaan. Kenapa kau pegang kijang itu? Kalau Anda ingin ambil, ambil. Ambil kijang itu, di sini insya Allah kami bisa tangkap lagi'," ujarnya.
Menurut Nasaruddin, kisah tersebut menjadi pelajaran bahwa tidak semua hadiah dapat dimaknai sebagai gratifikasi.
Baca Juga:
Retakan Raksasa di Afrika Masuki Fase Kritis, Samudra Baru Bisa Terbentuk
"Ini pembelajaran Bapak, Ibu, kalau kita dikasih hadiah seseorang dengan penuh ketulusan, tidak semua hadiah itu gratifikasi. Ini tulus kok, dikasih," katanya.
Ia menambahkan Nabi Muhammad menerima hadiah tersebut dengan penuh penghargaan dan bahkan membawa sendiri kijang itu tanpa meminta bantuan sahabatnya.
"Itu caranya seorang tokoh yang baik menghargai pemberian orang. Dia nggak minta ajudannya, asistennya, 'tolong ambil itu'. Dia sendiri yang bawa kijang itu," ujar Nasaruddin.
Baca Juga:
Tes Urine Positif Ganja dan Sabu, 31 Wisatawan Pantai Wedi Awu Direhabilitasi
Namun pada akhirnya, Nabi Muhammad kembali melepaskan kijang tersebut agar bisa merawat anak-anaknya di alam bebas.
"Biarkan dia kembali membesarkan anak-anaknya. Ini hewan langka," tutur Nasaruddin menirukan ucapan Nabi Muhammad.
Dalam kesempatan itu, Nasaruddin juga mengajak masyarakat untuk menyayangi binatang dan menjaga alam sebagai bagian dari nilai kemanusiaan dan ajaran agama.