“Beliau memberikan support bagi kami yang baru menjabat untuk bisa melakukan hal-hal yang penting dan perlu dilakukan dalam sesegera mungkin,” ujarnya.
Ia menegaskan percepatan reformasi pasar modal akan menjadi prioritas utama manajemen BEI saat ini.
Baca Juga:
Prabowo Resmi Sahkan Aturan, Tanah Telantar Kini Bisa Disita Negara
“Dan itu akan kami lakukan,” tambah Jeffrey.
Sebagaimana diketahui, badai di pasar modal terjadi setelah MSCI mengumumkan pembekuan sementara perlakuan indeks terhadap saham-saham Indonesia.
Kebijakan MSCI mencakup pembekuan seluruh kenaikan bobot saham Indonesia, penghentian penambahan saham baru ke dalam indeks, serta tidak adanya kenaikan kelas saham di seluruh segmen indeks MSCI.
Baca Juga:
Bundaran HI Tak Lagi Cuma Hotel, Prabowo Siapkan Gedung untuk MUI
Dampaknya, IHSG terjun bebas hingga 8 persen pada Rabu (28/1/2026) dan Kamis (29/1/2026), yang memaksa otoritas bursa melakukan penghentian perdagangan sementara atau trading halt.
Krisis kepercayaan tersebut berujung pada pengunduran diri Direktur Utama BEI Iman Rachman.
Gelombang mundur juga terjadi di Otoritas Jasa Keuangan setelah empat pejabat tinggi menyatakan mundur, termasuk Ketua Dewan Komisioner OJK Mahendra Siregar dan Wakil Ketua OJK Mirza Adityaswara.