WAHANANEWS.CO, Jakarta - Anggota Komisi XII DPR RI, Ramson Siagian, mendesak PT Pertamina Hulu Energi (PHE) untuk mempercepat kegiatan eksplorasi di berbagai wilayah kerja minyak dan gas bumi (migas) guna mendongkrak lifting minyak nasional yang dalam beberapa tahun terakhir terus mengalami tekanan akibat penurunan produksi dari lapangan-lapangan eksisting.
Desakan tersebut disampaikan Ramson dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi XII DPR RI bersama jajaran direksi PT Pertamina Hulu Energi, para direktur regional, serta general manager zona yang berlangsung di Ruang Rapat Komisi XII DPR RI beberapa waktu lalu.
Baca Juga:
Pemerintah Kembali Aktifkan Sumur Migas Tua, Bahlil Targetkan Produksi Rakyat Tembus Jutaan Barel
Rapat tersebut secara khusus membahas realisasi lifting migas tahun 2025–2026 serta strategi percepatan peningkatan produksi migas nasional.
Dalam kesempatan itu, Ramson menyoroti kondisi produksi minyak nasional yang masih menunjukkan tren penurunan, meskipun Pertamina telah mengambil alih pengelolaan sejumlah blok migas strategis yang sebelumnya dioperasikan oleh perusahaan asing.
Menurutnya, capaian produksi saat ini belum menunjukkan peningkatan yang signifikan sesuai harapan pemerintah maupun masyarakat.
Baca Juga:
Presdir Shell Indonesia: Zat Aditif Hanya Berikan Nilai Tambah, Tak Mengubah RON BBM
Ia menjelaskan bahwa ketika proses alih kelola Blok Rokan dilakukan dari operator sebelumnya kepada Pertamina pada tahun 2018, tingkat produksi minyak masih berada di kisaran 220 ribu barrel oil per day (BOPD).
Namun, pada tahun 2025 produksi di blok tersebut tercatat turun menjadi sekitar 158 ribu BOPD. Kondisi serupa juga terjadi di Blok Mahakam yang dinilai mengalami penurunan produksi dari waktu ke waktu.
“Target lifting minyak 2026 hanya naik sekitar delapan ribu barrel per day dibandingkan 2025. Ini terlalu kecil. Pertamina harus bergerak lebih progresif,” tegas Politisi Fraksi Partai Gerindra ini.
Menurut Ramson, upaya meningkatkan lifting minyak tidak bisa hanya bergantung pada strategi mempertahankan produksi dari lapangan tua melalui berbagai metode optimalisasi maupun penerapan enhanced oil recovery (EOR).
Langkah tersebut dinilai penting, tetapi belum cukup untuk menghasilkan lonjakan produksi yang signifikan dalam jangka panjang.
Ia menegaskan bahwa percepatan kegiatan eksplorasi di wilayah kerja baru harus menjadi fokus utama perusahaan agar dapat menemukan cadangan migas baru yang mampu menggantikan penurunan produksi alami atau natural decline dari lapangan-lapangan yang sudah beroperasi.
“Yang saya lihat, titik terlemah Pertamina saat ini adalah percepatan eksplorasi. Kalau natural decline terjadi, itu harus diimbangi dengan langkah eksplorasi yang lebih cepat,” ujarnya.
Selain menyoroti aspek teknis produksi, Ramson juga mengkritisi proses pengambilan keputusan di lingkungan internal Pertamina yang menurutnya masih berjalan lambat.
Ia meminta manajemen PHE melakukan transformasi tata kelola dengan memanfaatkan teknologi informasi secara lebih optimal, sehingga seluruh tahapan pekerjaan mulai dari eksplorasi, pengembangan lapangan, hingga produksi dapat dipantau secara real time oleh jajaran pimpinan perusahaan.
Menurutnya, sistem pengawasan berbasis digital akan membantu mempercepat respons terhadap berbagai kendala operasional serta memastikan setiap target produksi dapat dievaluasi secara cepat dan terukur.
“Jangan business as usual. Harus progresif. Kalau ada pimpinan regional yang lamban, evaluasi dan ganti. Ini soal tanggung jawab besar untuk menjaga ketahanan energi nasional,” katanya.
Lebih lanjut, Ramson mengingatkan bahwa Indonesia pernah mencatat sejarah sebagai salah satu produsen minyak utama di kawasan dengan lifting mencapai sekitar 1,3 juta barrel per day pada tahun 2001.
Namun dalam dua dekade terakhir angka tersebut terus mengalami penurunan hingga kini berada di kisaran 600 ribu barrel per day.
Kondisi tersebut, menurutnya, harus menjadi perhatian serius seluruh pemangku kepentingan sektor energi.
Ia berharap Pertamina Hulu Energi dapat memanfaatkan mandat besar yang diberikan pemerintah untuk mempercepat eksplorasi, meningkatkan investasi hulu migas, serta memperkuat strategi pengembangan lapangan guna mendukung target swasembada energi nasional.
Ramson juga menaruh harapan besar agar pada masa pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, sektor migas nasional mampu menunjukkan kinerja yang lebih baik dengan peningkatan produksi yang signifikan.
Peningkatan lifting minyak dinilai menjadi salah satu kunci penting dalam memperkuat ketahanan energi, mengurangi ketergantungan impor, serta mendukung pertumbuhan ekonomi nasional secara berkelanjutan.
[Redaktur: Ajat Sudrajat]