“Jadi pengusaha itu membedah, warung itu jadi cantik, dan kemudian yang meresmikannya itu adalah si pengusaha itu,” kata Sofyan saat mengikuti Kunjungan Kerja Spesifik Komisi X DPR RI ke Perpustakaan Provinsi Jawa Timur, Surabaya, Kamis (20/8/2026).
Ada hal menarik dalam konsep tersebut. Para pengusaha yang ikut terlibat tidak diarahkan membawa hadiah atau ucapan peresmian dalam bentuk yang lazim.
Baca Juga:
Abdul Fikri Faqih: Anggaran Makan Bergizi Gratis Wajib Dipisahkan dari Alokasi Pendidikan
Mereka justru diminta membawa buku untuk menambah koleksi bacaan di Warung Pintar.
“Bukan kasih ucapan berupa buku waktu dia resmikan itu, tapi semuanya bawa buku. Jadi begitu itu dilakukan, saya pernah membuka sampai 18 Warung Pintar, melibatkan 18 pengusaha,” ungkapnya.
Sofyan mengatakan keberadaan buku ternyata memberikan nilai tambah bagi warung tersebut.
Baca Juga:
Komisi X DPR Serap Aspirasi Pendidikan di Tebing Tinggi, Soroti Kesejahteraan Guru dan Revitalisasi Sekolah
Tempat yang semula hanya berfungsi sebagai lokasi untuk makan berkembang menjadi ruang interaksi sekaligus literasi bagi masyarakat.
Menurutnya, konsep tersebut juga menunjukkan bahwa minat membaca dapat tumbuh ketika kegiatan literasi dikombinasikan dengan aktivitas yang sudah menjadi bagian dari rutinitas masyarakat.
Bahkan, ia menemukan adanya keluarga yang sengaja datang bersama anak-anak untuk makan sambil memanfaatkan koleksi buku yang tersedia.