“Buku itu mengandalkan literasi hingga warung itu menjadi ramai, orang makan sambil baca buku. Yang luar biasa laku adalah orang tua bawa anak-anaknya itu sambil makan di sana, sambil baca buku,” tuturnya.
Bagi Sofyan, pengalaman membuka hingga 18 Warung Pintar menjadi contoh bahwa gerakan literasi tidak selalu membutuhkan konsep yang rumit.
Baca Juga:
Abdul Fikri Faqih: Anggaran Makan Bergizi Gratis Wajib Dipisahkan dari Alokasi Pendidikan
Kreativitas dalam menentukan lokasi dan cara menghadirkan buku justru dapat menjadi salah satu kunci untuk mendekatkan masyarakat dengan bahan bacaan.
Ia menilai perpustakaan tetap memiliki peran penting sebagai pusat pengetahuan.
Namun, upaya meningkatkan budaya membaca juga perlu dilakukan dengan membawa buku keluar dari ruang perpustakaan dan mendekatkannya ke tempat-tempat yang sering dikunjungi masyarakat.
Baca Juga:
Komisi X DPR Serap Aspirasi Pendidikan di Tebing Tinggi, Soroti Kesejahteraan Guru dan Revitalisasi Sekolah
Dengan demikian, masyarakat tidak harus secara khusus datang ke perpustakaan untuk membaca.
Buku dapat ditempatkan di warung makan, ruang komunitas, fasilitas publik, maupun tempat lain yang memungkinkan masyarakat mengakses bacaan secara mudah dan nyaman.
Selain melalui konsep Warung Pintar, Sofyan mengusulkan cara sederhana lain untuk meningkatkan interaksi masyarakat dengan buku.