Situasi semakin kompleks ketika sejumlah perjalanan kereta, termasuk KRL, harus dihentikan untuk proses evakuasi di lokasi kejadian.
Dalam kondisi tersebut, diduga terjadi kendala komunikasi di lapangan sehingga informasi mengenai jalur tidak tersampaikan secara utuh ke seluruh rangkaian kereta.
Baca Juga:
Bikin Emosi! Usai Kecelakaan Maut, Sopir Green SM Malah Santai Merokok dan Main HP
Akibatnya, KA Argo Bromo Anggrek yang melaju dengan kecepatan sekitar 110 kilometer per jam tidak mengetahui kondisi di depan dan akhirnya menghantam KRL yang tengah berhenti.
Sebelumnya, Komisaris Utama PT KAI Said Aqil Siradj menyebut kecelakaan tersebut tidak lepas dari kelalaian pengemudi yang nekat melintasi rel.
“Semuanya menjadi pelajaran yang berharga bagi kita semua, baik bagi sopir-sopir mobil, pengendara mobil, maupun masinis, semuanya harus mengambil pelajaran yang sangat berharga ini, karena tidak akan terjadi kalau kita hati-hati atau betul-betul waspada,” ujar Said Aqil.
Baca Juga:
Daftar Lengkap 15 Korban Tewas Kecelakaan KRL Bekasi Timur Resmi Dirilis
Ia juga menjelaskan bahwa kendaraan seharusnya tidak melintas saat kereta sudah dekat karena getaran lokomotif dapat memengaruhi kondisi mesin kendaraan.
“Kalau sudah jelas kereta dekat, mobil itu melintas pasti mati mesinnya, apalagi mobil listrik, mobil apa pun mesinnya mati, pasti, karena ada getaran dari mesin lokomotif,” kata dia.
Said Aqil secara tegas menyebut kendaraan taksi tersebut sebagai pemicu awal kejadian di lintasan.