Karena itu, ia menilai perempuan dalam dunia seni harus tampil bukan hanya sebagai objek representasi, tetapi juga sebagai pencipta makna, penafsir realitas sosial, sekaligus penggugat berbagai bentuk ketidakadilan yang masih terjadi.
“Pertarungan perempuan hari ini bukan sekadar soal keterwakilan. Ini adalah pertarungan memperebutkan ruang makna dan ruang kuasa,” tegas Anggota Majelis Tinggi Partai NasDem itu.
Baca Juga:
DPR Soroti Tren Membaca Gen Z, Dorong Strategi Penguatan Literasi
Dalam forum tersebut, Rerie juga menyoroti berbagai hambatan struktural dan kultural yang hingga kini masih dihadapi perempuan Indonesia.
Berdasarkan berbagai data, partisipasi kerja perempuan masih berada di bawah laki-laki.
Selain itu, sebagian besar perempuan masih bekerja di sektor informal dengan perlindungan yang minim, sementara keterwakilan perempuan dalam pengambilan keputusan politik nasional dinilai masih rendah.
Baca Juga:
Lestari Soroti Rendahnya Partisipasi Perempuan di STEM, Pendidikan Jadi Solusi
“Perempuan berhadapan dengan glass ceiling, stereotip, beban ganda, bahkan kontrol sosial terhadap tubuh dan hidupnya,” ujarnya.
Ia menilai persoalan utama bukan terletak pada kapasitas perempuan, melainkan pada struktur sosial yang belum adil serta budaya patriarki yang masih mengakar kuat di tengah masyarakat.
Rerie juga menaruh perhatian serius terhadap meningkatnya kasus kekerasan terhadap perempuan, termasuk kekerasan berbasis digital seperti doxing, cyber harassment, revenge porn, hingga eksploitasi tubuh perempuan di ruang digital.