“Tubuh perempuan hari ini masih menjadi arena kuasa. Diatur, dihakimi, dikomodifikasi, bahkan dieksploitasi oleh sistem sosial maupun algoritma digital,” tegasnya.
Karena itu, ia mengingatkan bahwa perlindungan perempuan tidak boleh dimaknai secara sempit hanya sebatas regulasi formal.
Baca Juga:
Banyak Situs dan Bangunan Tua Terancam Hilang, Lestari Minta Dukungan Nyata dari Pemerintah
Menurutnya, perlindungan perempuan harus diwujudkan melalui keberanian negara dan masyarakat dalam membangun sistem yang adil, aman, dan setara bagi semua.
“Pemberdayaan perempuan tidak cukup hanya dengan seminar dan slogan. Harus ada akses nyata terhadap pendidikan, ekonomi, teknologi, kepemimpinan, dan perlindungan yang sungguh bekerja,” ujarnya.
Di akhir penyampaiannya, Rerie menegaskan bahwa perjuangan membela perempuan pada hakikatnya merupakan upaya membela kualitas kemanusiaan sekaligus masa depan bangsa Indonesia.
Baca Juga:
Kasus Virus Hanta Muncul di Wilayah Urban, DPR Minta Kewaspadaan Ditingkatkan
“Tidak ada bangsa yang bisa maju jika perempuan terus dipinggirkan dari ruang makna dan ruang kuasa. Dan tidak ada peradaban yang akan bertahan jika perempuan hanya hadir sebagai simbol, tetapi tidak diberi ruang menentukan arah,” pungkasnya.
[Redaktur: Ajat Sudrajat]
Ikuti update
berita pilihan dan
breaking news WahanaNews.co lewat Grup Telegram "WahanaNews.co News Update" dengan install aplikasi Telegram di ponsel, klik
https://t.me/WahanaNews, lalu join.