Rentetan kasus ini menunjukkan pola yang konsisten: pelaku berasal dari kalangan yang secara sosial dianggap terhormat, mulai dari aparat penegak hukum, akademisi, tenaga medis, hingga tokoh agama.
Dunia yang identik dengan misi kemanusiaan justru dirusak oleh tangan-tangan yang semestinya melindungi.
Baca Juga:
Mitos atau Fakta? Dokter Ungkap Hubungan Golongan Darah O dengan Kolesterol
Mengapa kekerasan seksual bisa dilakukan oleh mereka yang seharusnya menjaga dan memberi teladan?
Melansir Kompas.com, psikolog forensik Reza Indragiri menjelaskan bahwa tidak ada jawaban tunggal yang bisa menjelaskan perilaku menyimpang ini.
Namun, Reza memaparkan tiga pendekatan teoretis yang dapat membantu memahami fenomena kekerasan seksual berbasis relasi kuasa.
Baca Juga:
HiWaDa Kepri Minta Wali Kota Batam dan Bunda PAUD, Libatkan OPD Terkait Kawal Kasus PG Djuwita
Pertama adalah pendekatan feminis, yang menekankan bahwa akar kekerasan seksual terletak pada ketimpangan relasi kuasa antara pelaku dan korban.
"Power asymmetry, alias relasi kekuasaan yang timpang, menjadi kunci mengapa seseorang bisa menjadi pelaku, dan yang lain menjadi korban," ujarnya.
Pendekatan kedua datang dari teori sosial, yang melihat kekerasan seksual sebagai produk budaya populer, terutama dari industri hiburan dan media massa.