WAHANANEWS.CO, Jakarta - Kritik tajam dilontarkan terhadap wacana pemindahan gerbong khusus perempuan di KRL ke bagian tengah rangkaian, yang dinilai tidak menjawab persoalan keselamatan dalam kecelakaan kereta.
Psikolog forensik Reza Indragiri menilai gagasan tersebut tidak relevan jika dikaitkan dengan mitigasi risiko saat terjadi benturan fatal.
Baca Juga:
MARTABAT Prabowo-Gibran Dukung Integrasi MRT dan KRL, Perkuat Mobilitas Modern di Kota Tua
“Ketika terjadi benturan fatal yang bisa memakan korban jiwa, lelaki dan perempuan sama-sama memiliki cuma satu nyawa,” tegasnya, Selasa (28/4/2026).
Pernyataan ini merespons insiden kecelakaan antara KA Argo Bromo Anggrek dan KRL Commuter Line di Stasiun Bekasi Timur pada Senin (27/4/2026) malam, di mana gerbong khusus perempuan berada di bagian paling belakang rangkaian dan terdampak tabrakan.
Reza berpandangan bahwa risiko kecelakaan tidak bisa dibedakan berdasarkan jenis kelamin penumpang karena seluruh posisi dalam rangkaian kereta memiliki tingkat kerentanan yang sama.
Baca Juga:
Warga Temukan Perempuan Sepuh Tak Dikenal Tewas di Jalur Rel Klaten
“Penumpang lelaki yang berada di kereta paling depan dan paling belakang berhadapan dengan kekritisan yang sama dengan penumpang perempuan di posisi kereta yang sama,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa pendekatan keselamatan transportasi harus berbasis pada sistem perlindungan menyeluruh, bukan pada pengelompokan penumpang.
“Jenis kelamin bukan unsur yang relevan, keamanan sebagai penumpang kereta adalah hak semua orang, apa pun jenis kelaminnya,” ucapnya.