Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa pengembangan hidrogen tidak hanya berorientasi pada kebutuhan industri, tetapi juga diarahkan untuk mendukung agenda dekarbonisasi nasional.
Hidrogen dinilai sangat relevan untuk diterapkan pada sektor-sektor yang sulit menurunkan emisi atau hard-to-abate sectors.
Baca Juga:
ESDM Prioritaskan Sampah Jadi Energi, Presiden Prabowo Pantau Langsung Proyek Waste to Energy
Menurut Yuliot, hidrogen dapat dimanfaatkan pada transportasi jarak jauh, sektor pelayaran dan penerbangan, industri baja, hingga proses pemanasan di sektor industri dan manufaktur.
Pemanfaatan tersebut diharapkan mampu menekan emisi karbon secara signifikan.
Ia juga menilai Indonesia memiliki peluang besar untuk mengembangkan hidrogen dan amonia sebagai bagian penting dari strategi transisi energi nasional, sekaligus berkontribusi pada dekarbonisasi sistem energi global.
Baca Juga:
BNPB Apresiasi Kinerja SAR Longsor Pasirlangu, 53 Korban Berhasil Dievakuasi
Hal ini sejalan dengan arahan Presiden RI Prabowo Subianto yang mendorong percepatan pemanfaatan energi baru dan terbarukan secara masif.
"Peluang tersebut ditopang oleh modal dasar yang kuat, antara lain ketersediaan potensi energi baru dan terbarukan (EBT) yang melimpah, komitmen Indonesia terhadap mitigasi perubahan iklim global, serta posisi geografis Indonesia sebagai negara kepulauan yang berada pada jalur utama perdagangan internasional. Dengan keunggulan tersebut, Indonesia berpotensi menjadi hub hidrogen dan amonia di kawasan Asia Pasifik," tuturnya.
Sementara itu, Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Eniya Listiani Dewi menyampaikan bahwa Kementerian ESDM telah menyiapkan National Hydrogen Roadmap sebagai panduan pengembangan hidrogen nasional.