Basis God Bless, Donny Fatah, pernah bilang di majalah anak muda Hai, edisi 50, 16 Desember 1997, halaman 87, "Band ini harus memperbaiki manajemen kalo mau tetap eksis."
Ucapan Donny itu menjadi benar karena sampai detik ini kita masih bisa menyaksikan God Bless manggung.
Baca Juga:
Perkuat IP Musik Indonesia, Menekraf Audiensi dengan Organisasi HAKI Dunia
Pembaca, Godbless dan ABBA adalah cerminan bagaimana merawat sebuah grup musik dengan komunikasi, dengan misi, dan cita-cita bermusik berlevel tinggi.
Bermusik dengan bahagia adalah level tertinggi, sementara yang paling rendah sekadar memburu uang, sekadar kesenangan tubuh semata.
Sebab, kita tahu juga, cita level terbawah ini yang jika tidak bisa dikelola dengan baik bakal membanting, menghukum, dan menenggelamkan sebuah grup dalam waktu yang sesingkat-singkatnya, selama-lamanya.
Baca Juga:
Benarkan Menonton Konser Musik Dapat Tingkatkan Kebahagiaan Kolektif? Ini Penjelasan Studi
Bentuk bermusik sebagai kebahagiaan adalah berkarya dengan penuh gairah kegembiraan.
Tulus menghidupkan panggung.
Menghangatkan lantai dengan peluh dansa, goyangan, seperti tercermin dalam hits ABBA yang tak pernah terlupakan sepanjang masa itu, “Dancing Queen”.