Ini di luar penderita penyakit diabetes melitus dan hipertensi yang eksisting. Ini akan menjadi bom waktu yang mengerikan.
Fenomena penyakit katastropik pemicu utamanya adalah faktor gaya hidup, dan konsumsi rokok berkontribusi signifikan terhadap tingginya prevalensi penyakit katastropik tersebut.
Baca Juga:
Layanan BJB Syariah Terganggu, Ketua BPKN RI Minta Transparansi dan Perlindungan Nasabah
Klimaks dari itu semua adalah kualitas sumber daya manusia Indonesia akan tergerus dan tergadaikan.
Fenomena bonus demografi dan generasi emas pada 2030 dan 2045, hanyalah mimpi di siang bolong, alias klaim yang omon-omon belaka.
Oleh sebab itu tajuk Hari Tanpa Tembakau se-Dunia pada 31 Mei 2026 "Unmasking the Appeal: Countering Nicotine and Tobacco Addiction“ harus menjadi spirit untuk mengendalikan konsumsi tembakau secara sangat serius, guna mewujudkan bonus demografi dan generasi emas, plus utamanya adalah kehidupan yang lebih sehat, lebih baik dan lebih sejahtera. [*]
Baca Juga:
Polda Jambi Gelar Upacara Hari Lahir Pancasila 2026, Implementasi Nilai-Nilai Pancasila Menuju Indonesia Emas 2045
*] Penulis adalah Pegiat Perlindungan Konsumen, Ketua Forum Konsumen Berdaya Indonesia (FKBI)
Ikuti update
berita pilihan dan
breaking news WahanaNews.co lewat Grup Telegram "WahanaNews.co News Update" dengan install aplikasi Telegram di ponsel, klik
https://t.me/WahanaNews, lalu join.