Masyarakat bisa mengurangi minuman yang serba manis, seperti jenis MBDK (Minuman Manis Dalam Kemasan). Bahkan mengurangi minuman jenis AMDK (Air Minum Dalam Kemasan) alias air mineral sekalipun.
Dengan kata lain, kenaikan harga plastik bisa dijadikan momen untuk menyelamatkan lingkungan, sebab kemasan plastik sangat berdampak negatif bagi lingkungan. Makanan dan minuman dengan kemasan plastik, menghasilkan jejak karbon yang sangat tinggi.
Baca Juga:
Pemimpin Gereja Katolik Paus Leo XIV Serukan Dunia Hentikan Perang
Selain itu masyarakat juga bisa melakukan jurus yang lain yakni re-fill (isi ulang) dan re-use (guna ulang), seperti menggunakan tumbler (termos) untuk minuman yang bisa diisi ulang dari air mineral ukuran galon.
Sedangkan jenis makanan basah, seperti kue jajan pasar, para pedagang bisa juga mulai menggunakan jenis kemasan dari daun pisang, atau daun yang lain; dan tak perlu dilapisi dengan kemasan plastik, seperti selama ini. Konon daun pisang justru membuat makanan terasa lebih enak, lebih berasa.
Bahkan mungkin dampak perang bisa berdampak terhadap kenaikan harga rokok, terutama jenis rokok filter dan rokok elektronik. Sebab pada rokok filter dan rokok elektronik ada komponen plastik dan juga kertas.
Baca Juga:
Trump: Perang Iran Akan Segera Diakhir
Nah, kalau harga rokok naik, ini malah positif dari sisi kesehatan. Sebab fenomena ini justru bisa menjadi momen yang tepat bagi masyarakat untuk mengurangi konsumsi rokok, atau bahkan stop merokok.
Apalagi BNN juga mengusulkan agar rokok vape dilarang. Tingginya prevalensi konsumsi rokok berdampak ganda bagi masyarakat, yakni, dampak bagi kesehatan dan juga berdampak pada ekonomi rumah tangga, khususnya untuk rumah tangga menengah bawah.
Dampak perang terhadap harga plastik, juga momen untuk memitigasi dampak plastik bagi lingkungan. Mengingat plastik menghasilkan jejak karbon yang serius bagi lingkungan.