PRESIDEN Prabowo Soebianto saat meresmikan Museum Marsinah di Jawa Timur menyatakan bahwa kurs rupiah yang terus melemah di mata dolar Amerika Serikat, tidaklah masalah, masyarakat tidak perlu khawatir, toh orang orang orang desa tidak menggunakan dolar.
Hanya orang orang kota yang sering keluar negeri yang sangat terpengaruh oleh melamahnya kurs rupiah terhadap dolar Amerika. Begitulah kira kira poin utama pernyataan Presiden Prabowo Soebianto.
Baca Juga:
Bamsoet Ajak Sejawat Alumni Lemhannas Perkuat Ketahanan Nasional Hadapi Dinamika Geopolitik Global
Pernyataan Presiden Prabowo secara verbal adalah benar, bahwa orang orang desa tidak menggunakan mata uang dolar, melihat langsung pun mungkin belum pernah.
Paling banter hanya melihat uang dolar via televisi atau intrrnet. Bahkan orang orang kota pun juga tidak menggunakan dolar dalam transaksinya.
Tetapi dalam kontekstualitas ekonomi Indonesia, pernyataan Presiden Prabowo Soebianto menggelikan bahkan menyesatkan. Musababnya jelas, gamblang!
Baca Juga:
Dolar Tersingkir, 93% Transaksi EAEU Kini Gunakan Mata Uang Lokal
Pertama, ketergantungan Indonesia terhadap produk impor masih sangat tinggi, hampir untuk semua komoditas, dari mulai produk yang remeh temeh, sampai produk teknologi tinggi.
Berikut ini beberapa contoh produk utama yang nyaris tak bisa lepas dari impor, yakni dari mulai kedelai (80%), gandum (100%), bawang putih (100%), minyak mentah (60%), gas elpiji (80%), impor bahan baku obat (90% lebih), daging sapi khususnya dari Australia 46,46 %) dan India (33 %), sampai aspal untuk membuat/preservasi jalan (90%).
Jadi berbasis konfigurasi seperti itu, kalau saat ini mata uang rupiah remuk versus mata uang dolar Amerika (data terakhir mencapai Rp 17.600 per satu dolar Amerika), rakyat kecil di perdesaan pun ikut mendelik! Karena untuk mengiimpor suatu komoditas standar transaksinya menggunakan devisa, alias menggunakan mata uang dolar Amerika.