Oleh sebab itu, untuk produk impor sudah pasti sangat terpengaruh oleh kurs rupiah terhadap dolar Amerika.
Jika dolar Amerika makin melonjak, maka biaya impor akan naik, baik yang ditanggung oleh sektor swasta dan atau oleh negara.
Baca Juga:
Bamsoet Ajak Sejawat Alumni Lemhannas Perkuat Ketahanan Nasional Hadapi Dinamika Geopolitik Global
Jika harga minyak mentah terus melangit, seperti saat ini yang lebih dari 100 dolar per barel, dan kurs dolar terus melangit juga; pemerintah akan semakin pening karena harus menambah subsidi energi dari APBN.
Pun jika harga kedelai di pasar internasional naik, endingnya harga tempe/tahu, yang menjadi makanan favorit masyarakat Indonesia, harganya akan naik pula
Atau, kalau pun tidak naik, ukurannya akan diperkecil. Artinya rakyat kecil di desa juga akan makin tercekik dan mendelik kenaikan harga kedelai/harga tempe, dab harga komoditas pangan lainnya, seperti daging, mi instan, susu, dan daging sapi.
Baca Juga:
Dolar Tersingkir, 93% Transaksi EAEU Kini Gunakan Mata Uang Lokal
Bahkan harga rokok pun akan mengalami kenaikan, sebab jangan salah, sebagian besar daun tembakau juga diimpor, per tahun tak kurang dari 200 juta dolar Amerika.
Ironis kan, tembakaunya impor (pelarian devisa), tetapi kalau sakit menggerus devisa, subsidi via APBN ke BPJS Kesehatan.
Kedua, kurs rupiah yang makin anjlok akan meningkatkan biaya produksi dan bahan baku bagi perusahaan, yang masih sangat bergantung pada bahan baku impor.