Sehingga hal ini akan berdampak pada cash flow atau arus kas perusahaan bisa tergerus dan berpotensi mengguncang perusahaan, seperti aksi PHK, dan atau produknya tidak terserap di pasaran, karena harganya menjadi mahal.
Jadi secara empirik betapa simplistisnya untuk memberikan penjelasan bahwa rupiah yang makin terpuruk, berdampak sangat buruk bagi masyarakat kelas manapun, apalagi masyarakat menengah bawah, baik di desa dan atau perkotaan.
Baca Juga:
Bamsoet Ajak Sejawat Alumni Lemhannas Perkuat Ketahanan Nasional Hadapi Dinamika Geopolitik Global
Bahkan sangat boleh jadi masyarakat menengah bawah/orang desa terdampak lebih dulu dan lebih parah, mengingat rendahnya daya beli mereka.
Artinya pernyataan Presiden Prabowo sangat tidak benar bahwa ambruknya kurs rupiah tidak akan berdampak pada orang orang desa. Jadi justru orang orang desa itulah yang terdampak paling dalam, paling parah.
Seharusnya Presiden Prabowo memberikan kepastian pada masyarakat dan upaya keras untuk menstabilkan kurs rupiah terhadap mata uang asing, khususnya dolar Amerika, plus membuat jurus mitigasi, agar dampak melemahnya rupiah tidak makin eskalatif.
Baca Juga:
Dolar Tersingkir, 93% Transaksi EAEU Kini Gunakan Mata Uang Lokal
Bukan malah meninabobokkan masyarakat, bahkan memberikan pernyataan yang tidak mencerdaskan, bahkan misleading.
Jurus mitigasi yang dilakukan BJ Habibie saat menjadi presiden, patut diakomodasi, tentu dalam konteks dan perspektif kebijakan yang berbeda. Saat Habibie menjadi presiden, kurs rupiah mencapai Rp 17.000 per dolar Amerika.
Nah, jurus dilakukan Habibie adalah menjadikan Bank Indonesia sebagai lembaga independen, dan memberikan ruang kebebasan masyarakat dan media masa untuk berpendapat.