Dampaknya sangat positif, sebab dalam waktu hanya 17 bulan, rupiah kembali pulih (rebound) dari Rp 17.000 menjadi Rp 6.500 per dolar Amerika.
Nah, pertanyaannya, apakah terjadi fenomena sebaliknya saat Presiden Prabowo menjadi presiden?
Baca Juga:
Bamsoet Ajak Sejawat Alumni Lemhannas Perkuat Ketahanan Nasional Hadapi Dinamika Geopolitik Global
Bahwa secara realita kini Bank Indonesia banyak diintervensi (alias tidak independen lagi), dan kebebasan masyarakat plus media masa, mulai diberangus lagi. Inilah mungkin biang musababnya.
Faktor lain bisa jadi musabab nyata. Sebagaimana narasi dari majalah internasional ternama The Economist, bahwa Presiden Prabowo dituding sangat boros dalam anggaran (terutama untuk MBG dan Kopdes Merah Putih), bahkan dituding mengusung kebijakan otoriterianistik, anti kritik, dll.
Inilah mungkin yang harus menjadi bahan percikan dan permenungan, terkait terpuruknya mata uang rupiah terhadap dolar Amerika, yang ketika artikel ini ditulis mencapai Rp 17.631 per dolar Amerika. Alamaak.
Baca Juga:
Dolar Tersingkir, 93% Transaksi EAEU Kini Gunakan Mata Uang Lokal
Nah, dari sisi ekonomi, adalah memangkas tingginya ketergantungan impor bahan baku, dari mulai bahan pangan, obat-obatan, infrastruktur, bahan baku obat, dan terutama energi primer, seperti minyak bumi dan gas elpiji.
Kita nantikan janji swasembada bahan pangan, swasembada energi, namun, tanpa mengorbankan sisi ekologis dan aksi deforestasi.
Jika ketergantungan impor masih terus langgeng, maka dampak kurs dolar Amerika akan menjadi "drakula ekonomi" bagi siapapun, tak peduli kelas sosial ekonomi manapun. Mampukah Presiden Prabowo membalikkan keadaan, sebagaimana legacy Presiden BJ Habibie? [*]