Tokoh pertama adalah Nanna, si nenek yang kokoh memegang tradisi Tionghoa di tengah rumah yang dihela secara Belanda oleh Chips, anak laki sulungnya.
Sosok kedua adalah Caroline (Ong Kway Lien), anak keempat Nanna yang dididik secara Belanda dan memilih dikucilkan keluarga karena memilih jodoh sendiri, Po Han, dari keluarga pekerja biasa.
Baca Juga:
Wagub Kalbar Komitmen Kembangkan Kebudayaan dengan Membangun Rumah Adat Tionghoa
Ia melepas karier sepanjang 10 tahun saat menikah, tetapi kemudian menggugat cerai karena alasan keterbatasan ekonomi.
Tokoh ketiga adalah Jenny, anak Caroline, yang berkembang sebagai perempuan cerdas dan berdaulat atas tubuh dan pikirannya.
Jenny menolak dikte ibunya untuk menjadi pengacara dan sekolah di Belanda.
Baca Juga:
Perjalanan Karir Politik Tjhai Chui Mie, Wali Kota Perempuan Tionghoa Pertama di Indonesia
Dia juga menolak lamaran pacarnya yang kaya raya dan sudah mengambil keperawanannya.
Ia kukuh memilih belajar ke Amerika untuk mewujudkan mimpinya menjadi dokter hewan.
Baik Caroline maupun Jenny mendapatkan ”kemerdekaan” pribadi dari hukum Belanda yang berlaku khusus untuk kelas elite.