Perusahaan penerbitan ini diharapkannya bisa menjadi jembatan pengantar karya-karya sastra Indonesia ke Amerika dan dunia.
Widjati Hartiningtyas berhasil menerjemahkan buku ini secara sastrawi di bawah pengawasan ketat atas syarat yang diminta Lian Gouw, yaitu antikata serapan alias hanya menggunakan kata dari bahasa Indonesia baku.
Baca Juga:
Wagub Kalbar Komitmen Kembangkan Kebudayaan dengan Membangun Rumah Adat Tionghoa
Jadilah, buku yang awalnya diniatkan pengarang sebagai karya sastra ternyata juga diapresiasi para cerdik pandai sebagai karya sejarah, politik, hukum, bahkan budaya.
Sebagai feminis nasionalis, saya menyusuri novel setebal 440 halaman yang terbagi dalam 20 bab dengan rasa nyaman dan penasaran.
Pembentukan karakter tiga tokoh perempuan satu keluarga dalam tiga generasi ini tidak terkontaminasi patriarki.
Baca Juga:
Perjalanan Karir Politik Tjhai Chui Mie, Wali Kota Perempuan Tionghoa Pertama di Indonesia
Ketiganya digambarkan sebagai sosok berkepribadian kuat, cerdas, dan otonom dalam keunikan masing-masing.
Kesamaannya adalah ketiganya mengalami problem identitas khas orang Tionghoa kelas atas yang rentan menjadi korban atas perubahan kekuasaan, terutama di masa pancaroba politik.
Kelompok Tionghoa ini di garis marjin, tetapi tidak marjinal karena punya kekuatan ekonomi.