BMKG juga mengidentifikasi adanya perubahan signifikan pada pola hujan di Jakarta dalam beberapa tahun terakhir dengan perubahan iklim sebagai faktor pendorong utama.
“Perubahan ini tidak selalu berarti jumlah hujan tahunan bertambah, tetapi lebih kepada bagaimana hujan itu turun,” ujar Ardhasena.
Baca Juga:
Angin Kencang Rusak Puluhan Rumah di Tapin, Banjir di Malang Mulai Surut
Menurut BMKG, perubahan pola tersebut ditandai oleh peningkatan intensitas hujan ekstrem seiring atmosfer yang semakin hangat dan mampu menampung lebih banyak uap air.
“Durasi hujan yang lebih singkat tetapi sangat masif, bergeser dari hujan ringan seharian menjadi hujan deras 1–2 jam,” kata Ardhasena.
BMKG juga mencatat pergeseran musim yang semakin sulit diprediksi serta distribusi hujan yang tidak merata dengan intensitas lokal yang dapat berlangsung sangat ekstrem.
Baca Juga:
Banjir Terjang Tiga Kabupaten di NTB, Satu Warga Lombok Timur Meninggal Dunia
“Jenis hujan berdurasi pendek namun bervolume tinggi ini sangat berbahaya bagi Jakarta, karena tanah dan saluran air tidak memiliki cukup waktu untuk menyerap atau mengalirkan air,” kata Ardhasena.
Ketua Tim Kerja Prediksi dan Peringatan Dini Cuaca BMKG, Ida Pramuwardani, menjelaskan bahwa banjir kali ini dipicu oleh kombinasi sejumlah fenomena atmosfer yang aktif secara bersamaan.
“Aktifnya Monsoon Asia yang disertai dengan signifikannya indeks Cold Surge dan indeks Cross-Equatorial Northerly Surge mengindikasikan adanya aliran massa udara basah dari Asia,” ujar Ida saat dihubungi.