Aliran udara basah tersebut bertemu dengan massa udara dari belahan bumi selatan dan membentuk awan memanjang akibat konvergensi antar tropis atau Intertropical Convergence Zone.
“Pola awan pada ITCZ ini memanjang dari Samudra Hindia barat Bengkulu hingga Laut Arafura,” kata Ida.
Baca Juga:
Cegah Risiko Kelistrikan Saat Banjir, PLN Imbau Warga Matikan MCB Jika Air Masuk Rumah
Kondisi ini membuat hujan berintensitas tinggi turun secara merata dan berlangsung selama beberapa hari di Jakarta dan wilayah sekitarnya.
Terkait mitigasi, BMKG menegaskan bahwa peringatan dini cuaca ekstrem telah dikeluarkan sebelum dan selama kejadian banjir berlangsung.
“BMKG mengeluarkan peringatan dini nowcasting untuk prakiraan cuaca jangka sangat pendek satu hingga tiga jam ke depan,” ujar Ida.
Baca Juga:
BNPB Imbau Kewaspadaan, Potensi Banjir Masih Mengintai Sejumlah Wilayah
Peringatan tersebut disampaikan kepada pemerintah daerah dan pemangku kepentingan melalui berbagai kanal komunikasi, termasuk grup WhatsApp, situs resmi BMKG, dan layanan SMS Blast.
“Saat ini layanan peringatan dini cuaca ekstrem telah tersedia untuk wilayah Sumatra, Jawa, Bali, NTB, NTT, hingga Sulawesi Selatan,” kata Ida.
Dari sisi kajian ilmiah, Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Limnologi dan Sumber Daya Air BRIN, Dr. Yus Budiyono, menilai pola banjir Jakarta telah mengalami pergeseran mendasar.