WAHANANEWS.CO, Jakarta - Startup kecerdasan buatan (AI) asal China, DeepSeek, tengah berada dalam sorotan tajam berbagai pemerintah dan regulator dunia.
Perusahaan teknologi ini sebelumnya menarik perhatian global setelah mengklaim berhasil mengembangkan model AI yang kemampuannya setara dengan ChatGPT, namun dengan biaya pengembangan yang jauh lebih rendah.
Baca Juga:
Microsoft Dorong Pengguna Windows Tinggalkan Chrome, Ini Alasannya
Klaim tersebut sempat memicu antusiasme, sekaligus kekhawatiran terkait aspek keamanan dan tata kelola data.
Sorotan terhadap DeepSeek terutama berkaitan dengan kebijakan keamanan siber dan perlindungan data penggunanya.
Dalam dokumen kebijakan privasi yang dipublikasikan perusahaan, DeepSeek menyebutkan bahwa mereka menyimpan berbagai jenis data pribadi pengguna, mulai dari perintah atau prompt yang dimasukkan ke sistem AI hingga berkas yang diunggah pengguna.
Baca Juga:
Lansia Ditipu Oknum Mengaku Petugas Dukcapil, Wali Kota Jaktim Tegaskan Pelaku Bukan ASN
Seluruh data tersebut disimpan di server yang berlokasi di China, sehingga memunculkan kekhawatiran mengenai privasi, keamanan informasi, serta potensi akses oleh otoritas setempat.
Sejumlah negara pun mulai mengambil langkah konkret untuk membatasi hingga melarang penggunaan layanan DeepSeek.
Pemerintah Australia, misalnya, pada awal Februari memutuskan melarang penggunaan DeepSeek di seluruh perangkat milik pemerintah. Kebijakan ini diambil dengan pertimbangan risiko terhadap keamanan nasional.