Gelombang panas Eropa juga menjadi lebih berbahaya karena banyak kota tidak dirancang untuk menghadapi panas ekstrem berkepanjangan.
Aspal, beton, dinding bangunan, kaca, dan atap menyerap panas pada siang hari.
Baca Juga:
Kemarau Belum Aman, BMKG Peringatkan Hujan dan Angin Kencang hingga 20 Agustus
Saat malam tiba, material itu melepaskan kembali panas ke udara sekitar.
Akibatnya, suhu kota tetap tinggi meski matahari sudah terbenam.
Fenomena ini dikenal sebagai urban heat island atau pulau panas perkotaan.
Baca Juga:
441 Ribu Pelanggan Kembali Terlayani, ALPERKLINAS Apresiasi Kerja Cepat PLN Pascagempa NTT
Dampaknya paling terasa di kawasan padat penduduk, permukiman minim pohon, bangunan tua, dan rumah dengan ventilasi buruk.
WWA mencatat risiko panas terkonsentrasi di kota-kota karena efek pulau panas perkotaan, stok bangunan tua, dan ketimpangan sosial ekonomi yang memperbesar paparan warga terhadap suhu ekstrem.
Banyak rumah, sekolah, transportasi, dan jaringan energi di Eropa tidak dirancang untuk menghadapi panas ekstrem yang berlangsung lama.