Cuaca yang dulu hanya dianggap panas ekstrem kini berubah menjadi ancaman kesehatan publik yang dapat merenggut nyawa dalam hitungan hari.
Panas Bukan Lagi Musiman
Baca Juga:
Danantara Tutup 290 BUMN, Rosan Targetkan Cuma Tersisa 300 Perusahaan
Penyebab paling besar dari gelombang panas maut di Eropa adalah perubahan iklim akibat emisi gas rumah kaca.
Gas rumah kaca dari pembakaran batu bara, minyak, dan gas membuat suhu rata-rata bumi meningkat.
Ketika suhu dasar bumi sudah naik, gelombang panas yang terjadi di atasnya otomatis menjadi lebih ekstrem.
Baca Juga:
Sambut HUT Kemerdekaan RI ke-81, SDN 030325 Simanduma Gelar Berbagai Lomba
Analisis World Weather Attribution atau WWA menyebut gelombang panas Eropa pada Juni 2026 terjadi dalam pola sirkulasi atmosfer yang secara umum mirip dengan peristiwa masa lalu.
Namun, pola cuaca yang sama kini menghasilkan suhu yang jauh lebih tinggi karena garis dasar iklim sudah menghangat.
Dengan kata lain, masalahnya bukan hanya ada udara panas yang datang, tetapi udara panas itu bergerak di atas bumi yang sudah lebih panas.