WAHANANEWS.CO, Jakarta - Charger murah berlabel 120W memang mampu mengisi daya ponsel dengan cepat, tetapi di balik harga yang menggoda tersimpan risiko serius berupa panas berlebih yang dapat memicu kebakaran.
Di berbagai platform e-commerce, pengisi daya bertuliskan 120W dijual dengan harga sangat murah, mulai 10 hingga 50 yuan atau sekitar USD 1,50 sampai USD 7, setara kurang lebih Rp24.000 hingga Rp115.000 tergantung kurs yang berlaku.
Baca Juga:
Siapa Pemilik PT MSE Pelaku Dugaan Jual Beli Solar Subsidi dari Gudang Ilegal ?
Produk-produk tersebut laris diburu konsumen karena menawarkan klaim daya tinggi dengan harga yang jauh di bawah produk resmi.
Namun, hasil investigasi CCTV dan sejumlah media di Tiongkok mengungkap bahwa sebagian produk tersebut menggunakan angka 120W hanya sebagai nama model, bukan daya keluaran sebenarnya.
Dalam pengujian nyata, beberapa charger tersebut hanya menghasilkan daya sekitar 22,5W.
Baca Juga:
Dijanjikan Kerja di Restoran, Gadis Indramayu Malah Dijual Jadi Pengantin Pesanan di China
Untuk membuktikannya, media teknologi Lei Technology membeli salah satu charger murah dari platform e-commerce.
Produk itu dikemas dalam kotak biru putih dengan casing plastik berwarna abu-abu perak yang dibuat menyerupai logam.
Desain yang paling mencolok adalah port USB-A dan USB-C yang ditumpuk dalam satu posisi.
Konfigurasi ini membuat hanya satu kabel yang dapat digunakan dalam satu waktu.
Dengan desain seperti itu, risiko kelebihan beban akibat penggunaan dua port secara bersamaan dapat dihindari.
Pengujian dilakukan terhadap enam perangkat dari berbagai merek.
Pada Xiaomi 15 Pro, charger mampu mengaktifkan protokol fast charging dan sempat mencapai daya puncak sekitar 52W.
Setelah itu, daya stabil di kisaran 35 hingga 45W.
Pada Huawei Mate 80 Pro Max, fitur Turbo Charging aktif dengan daya sekitar 42W selama beberapa menit pertama.
Setelah itu, daya turun ke kisaran 20W.
iQOO Z11 Turbo sempat mencatat daya hampir 80W dan mempertahankan 42 hingga 50W selama 10 menit pertama.
Pada perangkat OPPO, charger juga berhasil mengaktifkan VOOC Super Flash Charge dengan daya sekitar 42W.
iPhone mampu mengisi daya dengan kecepatan normal.
Beberapa perangkat Honor juga kompatibel, meski salah satu model terus menampilkan pesan error saat pengisian.
Hasil pengujian menunjukkan charger murah ini cukup kompatibel dengan banyak merek ponsel populer.
Dalam penggunaan singkat, performanya tidak jauh berbeda dibanding charger asli.
Masalah serius muncul saat charger digunakan untuk memasok daya 65W ke laptop selama satu jam penuh.
Suhu permukaan charger melonjak hingga lebih dari 80 derajat Celsius.
Kondisi tersebut membuat bodi charger sangat panas saat disentuh.
Mekanisme perlindungan termal pun berulang kali aktif sehingga keluaran daya menjadi tidak stabil.
“Kalau suhu charger sudah di atas 80 derajat Celsius, itu tanda komponen internal bekerja di luar batas aman dan berisiko merusak perangkat maupun memicu korsleting,” ujar Rudi Hartono, teknisi servis ponsel dan laptop.
Menurut Rudi, charger murah seperti ini masih bisa dipakai untuk kebutuhan ringan, tetapi tidak ideal untuk penggunaan jangka panjang atau untuk mengisi daya perangkat berdaya besar.
“Secara kasat mata memang terlihat normal, tetapi kualitas pendinginan dan komponen elektronik di dalamnya sering kali tidak sebanding dengan klaim dayanya,” katanya.
Dengan harga di bawah 50 yuan atau sekitar USD 7,50, charger ini memang menawarkan solusi ekonomis bagi pengguna yang ingin menikmati pengisian cepat.
Namun, risiko utamanya terletak pada kestabilan performa dan sistem pembuangan panas yang kurang memadai.
Dalam kondisi ekstrem, panas berlebih berpotensi memicu kebakaran atau bahkan ledakan.
Karena itu, konsumen disarankan lebih berhati-hati dan tidak hanya tergiur harga murah saat memilih charger untuk perangkat elektronik mereka.
[Redaktur: Elsya Tri Ahaddini]