Pandangan tersebut, kata Brian, berkontribusi pada rendahnya minat siswa untuk memilih jalur pendidikan STEM dan mendorong mereka beralih ke bidang non-STEM.
“Ini bukan hanya terjadi di Indonesia, fenomena rendahnya minat dan kemampuan STEM juga terjadi di banyak negara. STEM itu dilihat sulit, sehingga adik-adik kita sekarang lebih banyak memilih yang non-STEM,” ujar Brian.
Baca Juga:
DPR Minta Pemerintah Sesuaikan Aturan Belanja Pegawai Daerah demi Kepastian PPPK
Sementara itu, Kepala Pusat Asesmen Pendidikan Kemendikdasmen, Rahmawati, menjelaskan bahwa rendahnya nilai TKA tidak semata-mata disebabkan oleh lemahnya penguasaan materi, tetapi juga dipengaruhi oleh karakter soal yang menuntut kemampuan bernalar dan memahami konteks bacaan secara mendalam.
Ia menilai masih banyak siswa yang belum terbiasa mengolah informasi secara komprehensif dari teks soal.
“Kerangka soalnya memang menuntut penalaran. Khusus matematika, siswa harus mampu mengaitkan data dengan ketentuan atau petunjuk yang ada dalam soal,” kata Rahmawati.
Baca Juga:
Pemerintah Dorong Pengembangan Panas Bumi di TRHS Tanpa Abaikan Kelestarian Lingkungan
Rahmawati menambahkan, banyak siswa yang kesulitan karena tidak mampu menangkap petunjuk penting yang disampaikan melalui kalimat sederhana dalam soal.
Kondisi ini menjadi catatan penting bagi dunia pendidikan untuk memperkuat kemampuan literasi dan numerasi siswa sejak dini.
[Redaktur: Ajat Sudrajat]
Ikuti update
berita pilihan dan
breaking news WahanaNews.co lewat Grup Telegram "WahanaNews.co News Update" dengan install aplikasi Telegram di ponsel, klik
https://t.me/WahanaNews, lalu join.