Pergerakan horizontal dua lempeng ini menyebabkan pelepasan energi besar yang memicu gempa bumi.
"Gempa ini berpusat di Sesar Sagaing, yang menjadi batas antara lempeng India di barat dan Eurasia di timur. Lempeng India terus bergerak ke utara, menyebabkan ketegangan di sepanjang sesar ini," ujar Bill McGuire, profesor emeritus di bidang bahaya geofisika dan iklim di University College London, dikutip dari The Guardian, Sabtu (29/3/2025).
Baca Juga:
Truk Bantuan Kiriman Xi Jinping untuk Korban Gempa Ditembaki Pasukan Junta Myanmar
McGuire menyoroti bahwa dampak gempa semakin parah karena kedalamannya yang tergolong dangkal.
“Gempa sebesar ini sangat merusak karena terjadi hanya sekitar 10 km di bawah permukaan. Jika lebih dalam, dampaknya tidak akan seburuk ini,” jelasnya.
Dr. Rebecca Bell, pakar tektonik dari Imperial College London, membandingkan Sesar Sagaing dengan Sesar San Andreas di California yang pernah memicu gempa mematikan Northridge pada 1994.
Baca Juga:
Myanmar Umumkan Masa Berkabung Nasional 7 Hari Usai Gempa
“Struktur sesar yang lurus memungkinkan gempa terjadi di wilayah yang luas—dan semakin besar pergeseran sesar, semakin kuat gempa yang ditimbulkan,” ujarnya kepada Science Media Centre di London.
Dampak Menghancurkan
Di Thailand, dampak gempa juga signifikan. Di Bangkok, sebuah gedung 33 lantai yang masih dalam tahap pembangunan runtuh, menewaskan sedikitnya delapan orang dan menjebak puluhan pekerja di dalamnya.