WAHANANEWS.CO - Para ilmuwan mengungkap benua Afrika kini terbelah lebih cepat dari perkiraan sebelumnya dan proses pemisahan itu disebut sudah memasuki fase kritis yang tidak bisa dihentikan lagi.
Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Nature Communications menemukan kerak Bumi di pusat Retakan Turkana, kawasan yang membentang di Kenya dan Ethiopia, kini hanya setebal sekitar 13 kilometer.
Baca Juga:
Tes Urine Positif Ganja dan Sabu, 31 Wisatawan Pantai Wedi Awu Direhabilitasi
Ketebalan itu jauh lebih tipis dibandingkan bagian tepi retakan yang masih memiliki ketebalan lebih dari 35 kilometer.
"Kami menemukan bahwa retakan di zona ini lebih maju, dan keraknya lebih tipis, dari yang pernah disadari siapa pun," kata Christian Rowan dari Lamont-Doherty Earth Observatory, Columbia University, seperti dilansir Science Alert, Jumat (1/5/2026).
Para peneliti menjelaskan ketika kerak Bumi menipis hingga di bawah 15 kilometer, wilayah tersebut memasuki fase kritis yang disebut necking.
Baca Juga:
Menag Nasaruddin Umar: Tidak Semua Hadiah Itu Gratifikasi
Fase ini merupakan tahap sebelum benua benar-benar terpisah dan samudra baru mulai terbentuk.
"Semakin tipis keraknya, semakin lemah ia, dan itu justru mendorong retakan terus berlanjut," ujar Rowan.
Retakan Turkana disebut menjadi satu-satunya retakan aktif di Bumi yang saat ini berada dalam fase necking.
Proses pemisahan tersebut sebenarnya telah dimulai sekitar 45 juta tahun lalu akibat pergerakan lempeng Afrika dan Somalia yang saling menjauh sekitar 4,7 milimeter per tahun.
Dalam beberapa juta tahun mendatang, retakan ini diperkirakan memasuki fase oseanisasi.
Pada fase itu, kerak Bumi akan semakin meregang hingga magma keluar dari bawah permukaan dan membentuk cekungan yang nantinya berubah menjadi dasar laut baru setelah dimasuki air dari Samudra Hindia.
Fenomena serupa diketahui mulai terjadi di Cekungan Afar yang berada di timur laut Afrika dekat Laut Merah.
Para ilmuwan menjelaskan bahwa susunan benua di Bumi sebenarnya terus bergerak meski sangat lambat.
Lebih dari 200 juta tahun lalu, seluruh daratan di Bumi pernah menyatu dalam satu superbenua.
Di masa depan, sebagian besar benua diperkirakan kembali bersatu akibat pergerakan lempeng tektonik.
Ketika dua lempeng bertabrakan, pegunungan akan terbentuk, sementara saat lempeng menjauh maka lautan baru tercipta.
Sistem Retakan Afrika Timur menjadi contoh nyata proses pemisahan lempeng tersebut.
Lempeng Afrika kini disebut tengah terbelah menjadi dua bagian, yakni lempeng Nubia di sebelah barat yang mencakup sebagian besar Afrika dan lempeng Somalia di sisi timur yang mencakup wilayah pesisir timur hingga Pulau Madagaskar.
Penelitian ini juga dianggap penting bagi sejarah evolusi manusia karena Kawasan Retakan Turkana dikenal sebagai lokasi penemuan banyak fosil hominin awal.
Para peneliti menemukan fase necking yang dimulai sekitar empat juta tahun lalu bertepatan dengan usia fosil hominin tertua yang ditemukan di kawasan tersebut.
"Kebetulan waktu antara transisi tektonik ini dan munculnya lapisan fosil yang tebal dan berkelanjutan menunjukkan bahwa fase necking menyediakan kondisi kritis bagi pelestarian fosil," tulis para peneliti dalam studinya.
"Kami mengusulkan bahwa perubahan tektonik ini memainkan peran mendasar dalam membentuk catatan paleoantropologi luar biasa di Kawasan Retakan Turkana," lanjut penelitian tersebut.
[Redaktur: Rinrin Khaltarina]