"Di tempat-tempat yang lain kita sebagai umat Islam itu juga minoritas, seperti di NTT di Papua umat Islam menjadi minoritas. Bagaimana perasaan kita misalnya, ketika pembangunan tempat ibadah kita ditolak umat agama lain, tentu kita sakit hati," sambungnya.
Sementara, tokoh pemuda Cilegon, Edi Oktana mengatakan pada prinsipnya agama apa pun, termasuk Islam mengajarkan kebaikan. Sebab melalui agama, semangat kemanusiaan dan upaya mematuhi konstitusi turut dijalankan.
Baca Juga:
Komitmen Dukung Pembangunan Rumah Ibadah, Pemko Binjai Serahkan Bantuan Hibah Untuk Dua Musholla di Binjai Barat
Terkait peristiwa di Cilegon, menurutnya hal itu hanya salah pemahaman semata. Pada peristiwa tersebut, salah satu pihak sedianya hanya ingin menjalankan peraturan yang ada. Ini mengingat hal tersebut juga merupakan tugas dan tanggung jawab umat beragama.
"Esensi ajaran agama yang melindungi martabat kemanusiaan dan membangun kemaslahatan yang berlandaskan prinsip yang adil dan berimbang dan menaati konstitusi sebagai kesepakatan bernegara," kata dia.
Lebih lanjut, Edi menyayangkan adanya fakta-fakta yang tak terungkap, dan upaya pemelintiran peristiwa itu, sehingga merugikan salah satu pihak. Menurut Edi, sesungguhnya insiden yang viral di media sosial itu bukanlah peristiwa intoleransi, tapi hanya sebatas upaya menegakkan aturan perundang-undangan yang ada.
Baca Juga:
Wali Kota Tomohon Caroll Senduk Salurkan Dana Hibah ke Masjid Agung Al Mujahidin Matani
Karenanya Edi berharap agar persoalan itu bisa segera diselesaikan secara baik-baik.
Sementara, Kepala Wilayah Kementerian Agama Cilegon Lukmanul Hakim, menjelaskan pihaknya dalam polemik ini hanya bertugas memberikan rekomendasi dalam pendirian rumah ibadah. Rekomendasi diberikan apabila syarat-syarat telah dipenuhi.
"Dalam pengajuan rekomendasi kepada Kementerian Agama, salah satu persyaratan belum dipenuhi. Pihak HKBP mengakui itu," ujarnya.