WAHANANEWS.CO, Jakarta - Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 RI Jusuf Kalla melalui juru bicaranya Husain Abdullah membantah telah menistakan ajaran Kristen sebagaimana laporan polisi yang dibuat Dewan Pimpinan Pusat Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia (DPP GAMKI) dan sejumlah organisasi lainnya.
DPP GAMKI bersama sejumlah lembaga Kristen dan organisasi kemasyarakatan lain itu menilai pernyataan JK dalam ceramah di UGM beberapa waktu lalu yang menyinggung konflik Poso dan Ambon tersebut menuai polemik.
Baca Juga:
JK Soroti Konflik dan Bencana, Tekankan Pentingnya Peran Masyarakat Sipil
Husain meluruskan postingan video viral yang tersebar di media sosial dan menurutnya kehilangan konteks. Video dimaksud berisi pernyataan JK yang menyebut kedua belah pihak dalam konflik Poso dan Ambon dengan istilah 'mati syahid'.
"Setelah ditelusuri, tuduhan itu merupakan hasil pemotongan konteks (context cutting). Kami membantah dengan tegas tuduhan itu," ujar Husain saat dikonfirmasi melalui pesan tertulis, Minggu (12/4) malam.
Husain menjelaskan pernyataan JK yang disampaikan saat berpidato di Masjid Kampus Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, Kamis (5/3), menegaskan tidak ada agama di dunia yang mengajarkan umatnya untuk saling membunuh.
Baca Juga:
JK Bantah Tudingan Rp5 Miliar, Siap Tempuh Jalur Hukum
Husain lalu menerangkan kala itu JK sedang menjelaskan kiprah saat turut andil dalam mendamaikan konflik Poso dan Ambon saat pergantian dekade 1990an ke 2000an itu.
"JK menggambarkan usahanya mendamaikan konflik Poso dan Ambon kepada civitas academica UGM. Di mana JK terlebih dahulu meluruskan keyakinan kedua kelompok yang bertikai, Islam dan Kristen, bahwa mereka telah bertindak keliru menggunakan jargon agama sebagai alasan pembenar yang menyebabkan ribuan nyawa melayang dari kedua pihak, dan konflik susah dihentikan," jelas dia.
Saat konflik terjadi, terang Husain, kedua kelompok saling menyerukan 'perang suci' dan mengklaim bahwa membunuh pihak lawan atau mati dalam pertempuran adalah masuk surga.