WAHANANEWS.CO, Jakarta - Teror demi teror yang menyasar pengkritik penanganan banjir di Sumatera dinilai sebagai sinyal serius bagi kebebasan berpendapat dan kewibawaan hukum negara.
Aksi teror terhadap aktivis dan influencer yang vokal mengkritik kebijakan pemerintah terkait bencana banjir di Sumatera dikecam keras oleh Aktivis Hak Asasi Manusia sekaligus Direktur Eksekutif Amnesty Internasional Indonesia, Usman Hamid.
Baca Juga:
Bukan Mekanisme, Ini Masalah Utama Pilkada Menurut KPK
Mereka yang menjadi sasaran teror tersebut adalah aktivis Greenpeace Iqbal Damanik serta para influencer DJ Donny, Sherly Annavita Rahmi, dan Virdian Aurellio.
Ditegaskan Usman, pembiaran atas rangkaian teror ini akan menciptakan kesan bahwa negara membenarkan praktik intimidasi terhadap kritik publik.
"Jika teror berlalu tanpa pengusutan, negara secara tidak langsung merestui praktik anti-kritik dan memvalidasi kekhawatiran Amnesty bahwa 2025 adalah tahun malapetaka nasional HAM," kata Usman pada wartawan, dikutip Jumat (2/2/2026).
Baca Juga:
Prabowo Dorong Rekayasa Teknik Besar untuk Pulihkan Sungai-Sungai Aceh
Dijelaskan Usman, rangkaian teror berupa pengiriman bangkai ayam, pelemparan telur busuk, aksi vandalisme, serangan bom molotov, hingga teror digital merupakan upaya sistematis untuk menciptakan iklim ketakutan.
Padahal, kebebasan berekspresi dan menyampaikan pendapat yang dilakukan para aktivis dan influencer tersebut telah dijamin oleh konstitusi sebagai hak warga negara.
"Pola serangan ini memiliki benang merah, yaitu pembungkaman kritik publik atas buruknya penanganan bencana ekologis di Sumatera akibat kebijakan pro-deforestasi," ujar Usman.