WAHANANEWS.CO, Jakarta - Polemik tudingan ijazah palsu Presiden ke-7 RI Joko Widodo kembali memanas setelah pengamat politik Rocky Gerung secara terbuka menyatakan keyakinannya bahwa ijazah Jokowi dari Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada adalah asli, di tengah proses hukum yang menyeret Roy Suryo dan sejumlah pihak lainnya, Selasa (28/1/2025).
Rocky Gerung memberikan pernyataan tersebut saat dimintai keterangan sebagai saksi ahli meringankan dalam perkara tudingan ijazah palsu Jokowi yang kini ditangani Polda Metro Jaya.
Baca Juga:
Majelis KIP Perintahkan KPU Serahkan Salinan Ijazah Jokowi ke Pemohon
Ia menegaskan kehadirannya bukan untuk membela individu tertentu, melainkan untuk menjelaskan prinsip metodologi ilmiah dalam penelitian dan sikap kritis akademik.
“Gak ada urusan memberatkan atau meringankan,” kata Rocky Gerung menjelaskan posisinya.
Rocky menilai bahwa dalam dunia ilmu pengetahuan, kecurigaan merupakan pintu masuk utama dalam proses riset yang sah dan tidak bisa serta-merta dipidanakan.
Baca Juga:
Komisi Informasi Putuskan Ijazah Jokowi Informasi Terbuka
“Mencurigai itu hal paling penting dari ilmu pengetahuan,” ujarnya.
Polda Metro Jaya sendiri telah menetapkan delapan orang sebagai tersangka dalam kasus ini yang terbagi ke dalam dua klaster, yakni penghasutan dan manipulasi dokumen.
Kelompok penghasutan mencakup Eggi Sudjana, Kurnia Tri Royani, Rizal Fadillah, Rustam Effendi, dan Damai Hari Lubis.
Sementara klaster manipulasi dokumen menjerat Roy Suryo, Rismon Sianipar, serta Tifauzia Tyassuma.
Rocky menekankan bahwa aktivitas penelitian tidak otomatis mengandung unsur pidana selama tidak disertai niat jahat atau pelanggaran hukum.
“Tidak ada tindak pidana dalam sebuah metodologi penelitian,” kata Rocky.
Ia menjelaskan bahwa perdebatan dalam riset merupakan hal wajar dan justru menjadi ciri dinamika akademik.
“Kalau gak ada unsur pidana, seharusnya restorative justice yang dikedepankan,” ujarnya.
Menurut Rocky, riset tidak mengenal garis akhir karena selalu terbuka terhadap temuan dan data baru.
“Semua riset itu perlu waktu dan tidak mungkin berakhir,” katanya.
Ia mempertanyakan relevansi pendekatan pidana terhadap proses ilmiah yang masih terus berkembang.
“Kalau ada data baru, ya riset aja,” ujarnya.
Dalam konteks ijazah Jokowi, Rocky secara tegas menyatakan bahwa dokumen tersebut adalah asli.
“Saya membela bahwa ijazah itu asli,” kata Rocky.
Ia bahkan menyebut bahwa polemik yang berkembang justru salah arah karena fokus pada tuntutan pembuktian sepihak.
“Salahnya kalian minta Jokowi nunjukin ijazah aslinya,” kata Rocky.
Rocky juga menyelipkan kritik bernada satir terhadap pola debat yang menurutnya tidak produktif.
“Ijazahnya asli, ya orangnya yang palsu,” ujarnya.
Di luar aspek hukum dan akademik, Rocky menyinggung dampak psikologis polemik berkepanjangan terhadap kondisi kesehatan Jokowi.
Ia menyarankan agar Jokowi menjaga ketenangan dan mengurangi paparan informasi yang berpotensi menimbulkan stres.
“Jangan sampai Pak Jokowi autoimunnya bertambah,” kata Rocky.
Menurutnya, tekanan mental akibat konsumsi informasi berlebihan dapat berdampak serius bagi kesehatan.
“Setiap buka HP ada Rismon, Tifa, Roy, itu bikin stres,” ujarnya.
Rocky pun menyarankan pendekatan biologis untuk menjaga kestabilan emosi.
“Perbanyak produksi oksitosin,” kata Rocky.
Ia menjelaskan hormon tersebut berperan dalam menciptakan rasa tenang dan nyaman pada tubuh.
“Oksitosin diproduksi hipotalamus untuk menghasilkan rasa tenang,” ujarnya.
[Redaktur: Elsya Tri Ahaddini]