Menurutnya, warga NU yang berakidah ahlussunnah akan menyimpan rahasia saudaranya dan tidak mudah menyebarkan, apalagi tidak valid, tidak disertai tabayun dan klarifikasi langsung.
"Ini faham-faham kita sepertinya ini ketularan penyakit kelompok-kelompok beraliran keras," ujar Kiai Miftach
Baca Juga:
Buntut 'Pencopotan' Ketum PBNU Gus Yahya, Kedua Kubu Saling Bantah
"Saya minta NU dan Banomnya, mari beri ketaatan, karena itu maziyahnya Nahdlatul Ulama, bukan karena pimpinan ini minta ditaati, minta disembah-sembah. Ketaatan itu adalah tanda Anda-anda itu kader NU, kader ahlussunnah waljamaah," sambungnya
Walaupun demikian, tambah Kiai Miftach, bahkan jika seorang pemimpin berasal dari golongan yang rendah atau memiliki latar belakang yang sederhana, kewajiban untuk tunduk dan patuh tetap ada.
Bahkan, dalam situasi di mana keputusan pemimpin tidak menyenangkan atau diabaikan, tetap merupakan kewajiban untuk tunduk kepada pemimpin tersebut.
Baca Juga:
GP Ansor Muara Enim Tegas Suarakan Sikap: Jangan Permainkan Marwah Pesantren
"Tidak perlu melakukan demonstrasi, tetapi bersabarlah seperti yang diajarkan oleh Rasulullah. Namun, di Indonesia, kita semua tahu dengan jelas siapa yang layak mendapatkan penghormatan sebagai nomor 1 atau 2," tambahnya.
[Redaktur: Elsya Tri Ahaddini]
Ikuti update
berita pilihan dan
breaking news WahanaNews.co lewat Grup Telegram "WahanaNews.co News Update" dengan install aplikasi Telegram di ponsel, klik
https://t.me/WahanaNews, lalu join.